Rabu, 11 Maret 2009

Siswa Kita (baca : Indonesia) Siswa Robotis

Siswa Kita (baca : Indonesia) Siswa Robotis

oleh : Musthofa Agus Suwanto
Siswa sekolah kita (baca: Indonesia) mengalami pendangkalan pemahaman keilmuan. Siswa kita ibarat sbuah "buah" dapat dikatakan matang tidak mentah juga tidak. Pada beberapa kasus ternyata siswa kita saat ini secara tak sengaja tercetak sebagai siswa robotis yang hanya siap menjalankan impuls-impuls yang pernah diprogramkan padanya. Siswa kita hanya melakukan alur yang sesuai dengan cetakan yang kita buat. Padahal siswa kita merupakan asset yang tak ternilai harganya, asset dalam pandangan sebongkah otak yang dikaruniakan kepada setiap kepala siswa kita. Otak bukan robot, otak mempunyai kemampuan yang luar biasa jika dibandingkan robot. Otak mampu berkembang sangat menakjubkan apabila empunya otak mau dan mampu mengembangkannya serta didukung oleh perlakuan yang diterima dari sekitar. Perlakuan disini bisa sekolah, sikap/pendidikan yang diberikan oleh orang tua, kegiatan lingkungan, dan perilkau alamiah dasar manusia yang ingin tahu. : Siswa robotis tampaknya akan semakin terus berkembang biak sangat luar biasa apabila pendidikan kita tidak segera membuat perubahan yang mendasar.
Siswa bukan robot karena siswa mempunyai masa depan sendiri. Kita tidak bisa membentuk masa depan mereka apabila memaksakan. Yang kita lakukan adalah hanya mengarahkan kepada kemampuan apa yang dipunyai dan mampu dikembangkan oleh siswa. Pendidikan berorientasi pada potensi seharusnya yang perlu diberikan kepada siswa kita. Bukan pendidikan berorientasi pada value (nilai raport, ijazah, nem), sebab pendidikan yang berorientasi pada value dapat dan mudah diatur apalagi jika melihat kondisi moral sebuah bangsa yang buruk. Pendidikan berorientasi pada value akan bagus dilakukan apabila moral dan etika yang baik telah melekat erat pada sebuah bangsa. Dan sudah menjadi sebuah rahasia umum jika banyak hasil nilai siswa kita yang diatur sedari awal padahal kalau melihat kenyataannya sebenarnya siswa kita belum mampu apa-apa. : Pendidikan berorientasi kepada potensi adalah melihat siswa dari sisi potensinya yang dapat dikembangkan. Pendidikan berorientasi kepada potensi ini tidak harus dilekatkan pada sebuah pendidikan formal, namun juga pada pendidikan orang tua, perilaku lingkungan media (tv, koran, majalah, dll). Kenapa potensi?
Secara tidak sengaja peilaku lingkungan media kita juga bepengaruh sangat luar biasa terhadap perkembangan siswa, hal ini semakin luar biasa setelah ditambah dengan model pendidikan kita. Siswa dengan sangat mudah membelokkan arah hidupnya menuju kepada perilaku lingkungan yang diterimanya. Televisi adalah contoh utama perilaku lingkungan media yang pengaruhnya sangat luar biasa. Dengan sangat mudah diera global saat ini arus informasi macam apa saja mengalir deras menghantam mata, telinga, dan rasa kita. Setiap hari kita dihantam oleh bermacam informasi. Dari hantaman itu secara tidak sengaja pula mengarahkan potensi kita seperti pada perilaku lingkungan media tersebut. Potensi positif yang seharusnya dapat dikembangkan dari seorang siswa akhirnya tenggelam dan hilang yang justru muncul adalah potensi-potensi negatif yang semakin bercabang-cabang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar