Selasa, 17 Maret 2009

UASBN di SDS. Borobudur Jakarta

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Evaluasi Pengajaran, penulis mengadakan observasi mengenai pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di sekolah yang dikunjungi. Penulis melakukan observasi di SDS. Borobudur Jakarta. Di sekolah tersebut penulis melakukan wawancara dengan kepala sekolah untuk bertanya mengenai pelaksanaan UN atau untuk SD disebut dengan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa ujian akhir mutlak diikuti oleh siswa yang akan menamatkan pendidikan pada tiap jenjang pendidikan. Para siswa harus menempuh ujian sekolah yang di dalamnya terdapat ujian praktek untuk mata pelajaran tertentu dan ujian teori, kemudian ujian nasional (UN) bagi SMP/MTs, SMA SMK/MA serta ujian bertaraf nasional (UASBN) bagi SD/MI.
Para peserta didik yang mengikuti UASBN dinyatakan lulus apabila nilai mereka telah memenuhi standar nilai yang telah ditentukan. Namun biasanya, yang menjadi tantangan besar bagi peserta didik dan sekolah adalah bagaimana cara atau upaya yang dilakukan supaya para peserta didik dapat lolos pada UASBN dengan standar kelulusan yang telah ditentukan tersebut. Sehubungan dengan itulah, maka sekolah, para peserta didik dan orangtua perlu menyikapi atau meresponnya dengan berbagai cara dan upaya yang positif agar berhasil nantinya.
Mengingat UASBN merupakan tahapan penting menuju tercapainya tujuan pendidikan nasional, maka hal tersebut perlu dipersiapkan dengan baik. Oleh karena itu, penulis menangkat masalah ini sebagai bahan pemenuhan tugas akademik mata kuliah Evaluasi Pengajaran yang hasilnya nanti dapat dipelajari bagi pembaca maupun penulis sendiri.
1.2 Identifikasi Masalah
Dengan memperhatikan masalah di atas, penulis mengidentifikasi masalah yang perlu diidentifikasi. Masalah-masalah tersebut antara lain :
a. Mengapa dilaksanakan UASBN di sekolah ?
b. Bagaimana kegiatan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta ?
c. Bagaimana pengalaman Ujian Nasional yang pernah dialami penulis ?

1.3 Pembatasan Masalah
Dari masalah yang timbul, penulis membatasi masalah mengenai bagaimana pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta.

1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui mengapa perlu diadakan UASBN di sekolah.
2. Mengetahui bagaimana pelaksanaaan kegiatan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta.
3. Mengetahui pengalaman-pengalaman yang dialami penulis dalam mengikuti Ujian Nasional .

1.5 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah dengan melakukan observasi di SDS. Borobudur Jakarta dan mewawancarai Kepala Sekolah SD tersebut yang bernama Ibu Purwati S.Pd dan kemudian di sempurnakan lagi dengan mengambil teori-teori dari berbagai sumber yang tentunya berhubungan dengan pembahasan yang saya angkat di laporan ini.

1.6 Sistematika Penulisan
Agar data tersusun secara sistematis maka laporan ini disusun dengan susunan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Pembatasan Masalah
1.4 Tujuan Penulisan
1.5 Metode Penelitian
1.6 Sistematika Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian UASBN
2.2 Profil SDS. Borobudur Jakarta
2.3 Penyelenggaraan UASBN di Mata SDS. Borobudur
Jakarta
2.4 Persiapan Menghadapi UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
2.5 Perilaku Siswa SDS. Borobudur Jakarta Dalam
Menghadapi UASBN
2.6 Pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
2.7 Hambatan-Hambatan Dalam Pelaksanaan UASBN di SDS.
Borobudur
2.8 Peran Guru dan Orangtua Terhadap Siswa di
SDS. Borobudur Jakarta Dalam MenghadapiUASBN
2.9 Pengalaman Mengikuti Ujian Nasional

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional)
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional atau yang sering disingkat UASBN merupakan ujian akhir bagi siswa-siswa sekolah dasar yang wajib diikuti oleh para siswa sekolah dasar kelas VI guna melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dalam UASBN ini siswa harus memperoleh nilai yang standar minimal kelulusannya telah ditetapkan. Dengan begitu siswa akan dinyatakan lulus bila nilai yang diperoleh tidak di bawah standar minimal kelulusan.
UASBN sekolah dasar mengujikan 3 pelajaran utama yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ketiga pelajaran tersebut merupakan pelajaran utama dimana semua siswa wajib lulus dengan standar yang ditetapkan. Untuk pelajaran lainnya akan diujikan oleh sekolah dan sekolah telah menetapkan standar tersendiri dalam meluluskan siswanya.
Tujuan yang diharapkan dalam pelaksanaan UASBN adalah menilai pencapaian kompetensi secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil UASBN tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan bagi pemetaan mutu satuan pendidikan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Dari tahun ketahun pelaksanaan ujian nasional sekolah sering berubah-ubah. Beberapa tahun lalu sebelum sistem UASBN yang ditetapkan, sistem yang digunakan adalah General Test, dimana siswa mengikuti suatu tes yang didalamnya memuat soal-soal mulai dari Bahasa Indonesia, Matematika sampai dengan Pengetahuan Umum. Tes tersebut dilaksanakan hanya dalam 1 hari dan nilai tes itu akan menetukan seorang siswa akan masuk ke sekolah yang dituju atau tidak. Dalam sistem ujian yang seperti ini menurut beberapa orang tidaklah akan membuktikan potensi dan kualitas siswa yang sebenarnya, karena bisa saja siswa yang pintar nilainya akan lebih buruk jika dibandingkan siswa yang lebih bodoh karena pada saat hari H ujian siswa tersebut sakit atau sedang tertekan. Mungkin karena itulah sistem tersebut diubah.
Dengan banyaknya perubahan yang sering terjadi terkadang membuat para pesserta didik dan pendidik sedikit bingung. Namun dengan berjalannya waktu diharapkan semua komponen yang terlibat akan dapat lebih mengoptimalkan potensinya guna mensukseskan pendidikan Indonesia demi terwujudnya pendidikan nasional di masa yang akan datang.

2.2 Profil SDS. Borobudur Jakarta
Sekolah Dasar Swasta (SDS) Borobudur Jakarta adalah sekolah dasar dimana saya dahulu bersekolah. Di sekolah ini saya untuk pertama kalinya belajar membaca, menulis dan berhitung. Sekolah ini terletak di Jalan Raya Cilandak KKO Kelurahan Cilandak Timur Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Sekolah ini berstatus sebagai sekolah swasta dan bernaung di bawah sebuah yayasan yang bernama Yayasan Pendidikan Kartini. Sekolah ini berdiri pada tahun 1974 dan didirikan oleh Ibu Nina Achmad yang pada saat itu berlaku sebagai ketua yayasan.
Sekolah ini memiliki total 13 ruangan yang diantaranya dipakai sebagai ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan dan ruang laboratorium komputer. Pada saat saya melakukan observasi, sekolah ini sedang dalam tahap renovasi. Sekolah ini termasuk sekolah yang memiliki prestasi yang lumayan membanggakan karena setiap tahunnya seluruh siswa di sekolah ini selalu lulus dan 90% siswa yang lulus tersebut di terima di SMP Negeri. Oleh karena itu sampai saat ini sekolah ini tetap mendapatkan banyak siswa baru yang tiap tahunnya selalu bertambah jumlahnya.
Selain itu lokasinya yang jauh dari jalan raya membuat proses belajar mengajar tidak terganggu oleh bisingnya lau lintas, oleh karena itu siswa dapat lebih berkonsentrasi lagi dalam menjalankan proses belajar mengajar di kelas.

2.3 Penyelenggaraan UASBN di Mata SDS. Borobudur Jakarta
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada sekolah dasar telah di tetapkan 2 tahun belakangan ini. Dari hasil wawancara saya dengan kepala sekolah SDS. Borobudur, beliau berpendapat bahwa penyelenggaraan UASBN adalah hal yang tepat. Hal tersebut dikarenakan supaya sekolah-sekolah dasar di seluruh Indonesia memiliki acuan dan motivasi agar mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya. Dalam pelaksanaan UASBN telah ditetapkan suatu standar minimal kelulusan bagi setiap peserta UASBN. Dengan mengacu pada standar itu maka sekolah akan dapat mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki oleh siswanya agar dapat belajar dengan baik dan benar sehingga semua siswa nantinya lulus dengan nilai yang diatas standar yang telah ditetapkan.
Selain itu dengan diadakannya UASBN, hasilnya nanti akan dapat dijadikan bahan evaluasi bagi sekolah pada umumnya dan bagi guru pada khususnya untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasi yang telah didapat sekolah tersebut. Bagi guru proses evaluasi ini sangat penting karena akan terlihat hasil pengajaran yang dilakukan sampai saat ini ke siswa sudah tepat atau belum, jika belum sang guru dapat memperbaiki dan memilih metode pengajaran yang sesuai dengan potensi para peserta didik. Dengan diselenggarakan UASBN di sekolah dasar ini juga akan membuat sekolah lebih kreatif lagi dalam memberikan pengajaran terhadap para siswanya agar siswa dapat termotivasi dalam proses belajarnya sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang optimal.
Namun menurut beliau terdapat sisi negatifnya pula dalam pelaksanaan UASBN tersebut. Sisi negatif yang dimaksud antara lain, dengan dilaksanakan UASBN ini siswa menjadi terbebani dan stres dalam menghadapi hari-hari sebelum pelaksanaan UASBN tersebut. Terlebih jika standar yang ditetapkan terlalu tinggi sehingga akan sulit bagi siswa dalam mencapai target tersebut. Walaupun dalam 2 tahun penyelenggaraannya standar yang ditetapkan masih tergolong rendah, tetapi nantinya setiap tahun akan dilakukan peningkatan standar minimal kelulusan. Hal tersebut sebenarnya juga menjadi beban bagi guru maupun sekolah karena merekalah yang sedikit banyak akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa selain siswa itu sendiri.
Namun dari semua sisi negatif tersebut, sekolah akan tetap berusaha melakukan yang terbaik bagi siswa-siswanya agar dapat lulus dengan hasil yang memuaskan dan mencapai target yang telah ditetapkan.

2.4 Persiapan Menghadapi UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
Dalam menghadapi UASBN yang akan diselenggarakan pada pertengahan bulan Mei tahun 2009 ini SDS. Borobudur telah melakukan persiapan yang cukup matang bagi siswa untuk menghadapi hari H ujian. Persiapan yang dilakukan antara lain dengan mengadakan kegiatan tambahan yaitu kegiatan pendalaman materi yang dilakukan setiap harinya sepulang sekolah. Selain itu sekolah yang bekerjasama dengan sekolah-sekolah dasar di lingkungan sekitar mengadakan try out yang soal-soalnya merupakan soal yang di buat dari sekolah-sekolah tersebut. Nantinya soal-soal tersebut akan ditukar satu sama lain secara bergantian. Try out ini dilakukan setiap hari di awal pelajaran. Try out ini telah dilaksanakan sejak bulan Februari sampai beberapa minggu menjelang UASBN tersebut dilaksanakan.
Selain kegiatan yang diadakan oleh sekolah, siswa juga disarankan mengikuti try out yang diadakan oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar. Hal tersebut akan sangat berguna bagi siswa untuk memperbanyak pengetahuan mereka mengenai soal-soal yang akan diujikan dan melatih mental mereka sebelum menghadapi UASBN yang sebenarnya.
Dalam menghadapi UASBN tahun ini, SDS. Borobudur sangat protect dalam memperhatikan perkembangan siswa-siswanya. Hal ini dilakukan sekolah demi mendapatkan hasil yang terbaik dan memenuhi target sekolah mereka dengan meluluskan siswa-siswanya 100%. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru juga berkoordinasi dengan para orang tua murid agar memperhatikan tingkah laku anak selama di rumah dan memantau perkembangan belajar anak-anak mereka dirumah. Hal ini dilakukan agar setiap kegiatan anak di luar sekolah tidak sampai mengganggu konsentrasi mereka menghadapi UASBN yang akan segera datang. Peran orang tua sangatlah penting karena dari mereka pula seorang anak terbentuk menjadi pribadi yang berbeda-beda. Diharapkan orang tua sangat mendukung dan membantu program-program persiapan UASBN yang telah ditetapkan oleh sekolah, dengan begitu sekolah akan dengan tenang melaksanakan UASBN.

2.5 Perilaku Siswa SDS. Borobudur Jakarta dalam Menghadapi UASBN
Menghadapi UASBN yang tinggal menyisakan beberapa bulan lagi membuat sebagian siswa-siswa kelas VI di SDS. Borobudur bertingkah laku tidak seperti biasanya. Walaupun hal tersebut hanya terjadi pada beberapa anak, namun hal itu membuat para guru khususnya wali kelas VI menjadi sedikit khawatir. Menurut pemantauan wali kelas dan kepala sekolah, ada beberapa anak yang agak sedikit stres dan cenderung menjadi tidak bersemangat dan tidak berkonsentrasi ketika kegiatan belajar mengajar di kelas sedang berlangsung. Hal tersebut dianggap wajar oleh para guru setempat karena dalam pemikiran mereka mungkin siswa memang sudah lelah dan bosan menghadapi soal-soal setiap harinya. Selain itu UASBN merupakan hal yang akan menjadi pengalaman pertama bagi mereka dalam menghadapi ujian bertaraf nasional.
Terkadang bahkan ada siswa yang terlalu memforsir porsi belajar mereka di rumah, sekolah maupun bimbingan belajar sehingga sampai jatuh sakit. Menurut kepala sekolah, tahun lalu pernah ada seorang siswa yang terlalu memforsir dirinya untuk belajar dan pada hari H ujian, anak tersebut justru sakit dan tidak dapat mengikuti ujian. Hal itulah yang dikhawatirkan oleh para guru pada persiapan UASBN tahun ini. Mereka berharap peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Oleh karena itu guru sebisa mungkin selalu memotivasi para siswanya agar tetap santai dan berusaha yang terbaik dalam menjalankan UASBN nanti.

2.6 Pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
UASBN yang dilaksanakan SDS. Borobudur tahun lalu diikuti oleh 29 siswa kelas VI. Jadwal UASBN tahun ajaran 2007/2008 adalah sebagai berikut:
Jadwal UASBN Tahun Pelajaran 2007/2008 SD, MI, dan SDLB

No Jenis USBN Hari / Tanggal Pukul Mata Pelajaran
1. UASBN Utama Selasa, 13 Mei 2008 08.00 – 10.00 Bhs. Indonesia
UASBN Susulan Rabu, 21 Mei 2008
2. UASBN Utama Rabu, 14 Mei 2008 08.00 – 10.00 Matematika
UASBN Susulan Kamis, 22 Mei 2008
3. UASBN Utama Kamis, 15 Mei 2008 08.00 – 10.00 IPA
UASBN Susulan Jumat, 23 Mei 2008

Pada pelaksanaannya SDS. Borobudur menggunakan 2 ruangan, dimana ruang 1 diisi oleh 15 siswa dan ruang 2 diisi oleh 14 siswa. Setiap ruangan diawasi oleh 2 orang pengawas. Dan pada tahun ajaran 2008 – 2009, SDS. Borobudur juga akan memakai 2 ruangan karena jumlah siswa kelas VI tahun ini berjumlah 31 orang.
Dalam pelaksanaan UASBN tahun lalu tidak ada hambatan-hambatan atau peristiwa berarti yang membuat pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur menjadi tersendat atau terganggu. Semua berjalan dengan lancar dan siswa-siswa pun dapat menyelesaikan semua soal yang diujikan dengan baik.
Menghadapi UASBN tahun ajaran 2008-2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 11-13 Mei 2009, SDS. Borobudur berharap agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar seperti tahun sebelumnya atau bahkan lebih baik. Hal tersebut pastinya akan memacu semangat para guru dan murid dalam memberikan hasil yang terbaik dari proses belajar mengajar yang telah mereka laukan selama 6 tahun di sekolah dasar.

2.7 Hambatan-Hambatan Dalam Pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur
Pelaksanaan UASBN di sekolah dasar swata dengan dekolah dasar negeri tidaklah jauh berbeda. Dalam hal ini yang membedakan dalam pelaksanaan UASBN adalah mengenai pembiayaan dan pembelian soal-soal untuk sekolah dasar swasta. Pembiayaan inilah yang menjadi hambatan pelaksanaan UASBN di sekolah swasta seperti SDS. Borobudur.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SDS. Borobudur, masalah pembiayaan untuk pembelian soal-soal ujian merupakan masalah utama yang setiap tahunnya selalu ditemui. Sebenarnya mereka tidak mau memberatkan orang tua murid untuk memenuhi hal tersebut, namun memang keadaan yang mengharuskan seperti itu. Seperti diketahui bahwa SDS. Borobudur merupakan sekolah dasar swasta yang segala biaya administrasi sekolah ditanggung oleh pihak sendiri (bukan pemerintah). Oleh karena itu dalam hal menyiapkan soal-soal UASBN pun sekolah harus mengeluarkan kebijakan sendiri kepada orang tua murid agar bisa dilunasi sebelum penyelenggaraan UASBN berlangsung.
Dalam hal ini, SDS. Borobudur memiliki kebijakan tersendiri untuk menyelesaikan hambatan yang ada tersebut yaitu dengan cara setiap siswa kelas VI pembayaran SPPnya dinaikkan. Ini dimulai sejak awal tahun ajaran baru dimana siswa baru naik kelas ke kelas VI. Dengan begitu secara tidak langsung orang tua siswa telah sedikit demi sedikit menyicil dan pada akhirnya nanti akan lunas. Tentunya hal ini dilakukan dengan persetujuan orang tua murid setelah rapat dengan komite sekolah. Namun demikian masih ada beberapa orang tua siswa yang keberatan dengan kesepakatan tersebut, mereka masih merasa kurang mampu akan hal itu, oleh karena itu pihak sekolah menanggapi dengan pengadaan subsidi silang bagi orang tua murid yang mampu agar mengeluarkan uang lebih besar untuk menutupi kekurangan dalam pembiayaan soal-soal UASBN tersebut.
Selain pembiayaan, hambatan yang ditemui dalam menghadapi pelaksanaan UASBN antara lain soal kesiapan siswa. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya mengenai perilaku siswa yang sedikit berubah menjelang UASBN, ternyata hal tersebut merupakan suatu hambatan yang terkadang ditemui di SDS. Borobudur. Apabila seorang siswa sudah stres atau lelah dalam menghadapi soal-soal, maka guru juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena akan percuma memaksakan mereka untuk terus belajar apabila mereka sudah lelah. Namun, semua hambatan tersebut tidaklah membuat para guru putus asa untuk terus memberikan layanan yang terbaik bagi murid-muridnya.

2.8 Peran Guru dan Orangtua Terhadap Siswa di SDS. Borobudur Jakarta Dalam Menghadapi UASBN
Peran guru dan orang tua merupakan faktor penting yang menjamin seorang siswa akan dapat dengan mudah menjalani ujian di sekolah. Guru sebagai pendidik di sekolah bertugas untuk memberikan pengajaran yang baik di kelas mengenai materi-materi yang akan di ujikan didalam pelaksanaan UASBN. Selain itu guru juga dapat menjadi motivator bagi siswa agar siswa tetap bersemangat dan tidak stres menjalani segala persiapan menjelang UASBN. Hal tersebut telah dilakukan oleh para guru SDS. Borobudur Jakarta. Mereka di kelas selalu berusaha agar memberikan pengajaran dengan seoptimal mungkin. Selain itu mereka juga selalu berusaha terus memotivasi para siswa yang memang butuh semangat baru dan motivasi agar rasa kepercayaan diri mereka menghadapi UASBN tertanam pada diri mereka masing-masing.
Selain guru, orang tua juga memegang peranan yang tidak kalah pentingnya. Mereka merupakan pendidik di rumah. Seorang anak akan merasa nyaman jika orang tua mereka selalu memantau dan memeperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang. Hal tersebutlah yang ditekankan oleh pihak sekolah kepada para orang tua murid SDS. Borobudur. Mereka bekerjasama dan saling membantu satu sama lain untuk memantau dan melihat perkembangan belajar anaknya yang akan menghadapi UASBN. Para guru dan orang tua murid berharap dengan melakukan semua itu maka perilaku siswa di sekolah dan di rumah dapat terkontrol sehingga semua kegiatan di luar sekolah tidak akan mengganggu konsentrasi mereka dalam menghadapi UASBN.

2.9 Pengalaman Mengikuti Ujian Nasional

Pengalaman saya mengikuti Ujian Nasional (UN) pada saat sekolah dulu sangat beragam dan tidak terlupakan, baik di SD, SMP dan SMA. Pertama kali saya mengikuti UN adalah pada saat SD ditahun 2001. Pada saat itu pemerintah memberlakukan sistem EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Persiapan saya menghadapi Ebtanas pada saat itu mungkin lumayan memberatkan saya. Setiap pagi saya harus sudah sampai sekolah pukul 6 pagi untuk melakukan kegiatan pendalaman materi pelajaran yang diujikan. Lalu pulang sekolah selalu diadakan try out mengenai materi yang telah di berikan pada saat pendalaman materi di pagi hari. Hal itu berlangsung selama 2 bulan penuh sebelum hari H. Tetapi semua itu saya lakukan dengan santai dan tanpa beban karena saya yakin saya akan dapat melewati ujian itu dengan baik. Hasil try out dan latihan-latihan saya pun cukup memuaskan, jadi itu merupakan motivasi terbesar saya dalam menghadapi ujian. Namun satu hal yang saya kuatirkan pada saat itu adalah cara pengisian lembar jawaban yang menggunakan komputer. Karena baru pertama kali diterapkan di sekolah, saya belum dapat mengerjakannya dengan baik dan itu yang membuat saya takut jika nantinya hasil jawaban saya tidak terbaca oleh komputer. Pada hari H EBTANAS saya telah mempersiapkan semua alat tulis dengan lengkap. Berhubung saya menempati absen yang pertama jadi saya mendapatkan tempat duduk di barisan paling depan. Hari pertama saya lewati dengan lancar dan saya dapat mengisi semua soal dengan baik walaupun ada beberapa soal yang menyulitkan. Lalu pada hari kedua ketika pelajaran Matematika yang diujikan, di tengah-tengah keseriusan saya mengerjakan soal dan membulatkan jawaban di lembar jawaban komputer, saya baru sadar ternyata lembar jawaban yang saya kerjakan itu sobek pada bagian bawah kertas. Saya kaget dan bingung, karena saya sudah mengerjakan lumayan banyak soal dan membutuhkan waktu yang lama jika saya harus mengganti dan mengulang pekerjaan membulatkan jawaban di kertas. Akhirnya saya hanya diam sampai waktu habis dan kertas jawaban itu saya berikan kepada pengawas untuk dikumpulkan. Saya hanya bisa berdoa semoga kertas jawaban saya itu dapat terbaca oleh komputer dan muncul nilainya. Dan ketika pengumuman kelulusan diberitahukan alhamdulillah saya lulus dan seketika itu juga saya langsung melihat nilai matematika saya yang ternyata memuaskan. Terima kasih ya Allah....pengalaman ini tidak akan saya lupakan sampai kapanpun.
Pengalaman kedua saya mengikuti UN adalah ketika SMP ditahun 2004. UN SMP saya merupakan ujian yang paling berkesan menurut saya. Hal ini karena perjuangan saya untuk bisa mengikuti UN dengan lancar itu sangat sulit. Persiapan saya mengikuti ujian di SMP kira-kira hanya 4 bulan. Setiap harinya ketika pulang sekolah, sekolah mengadakan kegiatan pendalaman materi pelajaran yang diujikan pada saat ujian. Di rumah pun saya privat dengan kakak saya khusus untuk pelajaran matematika karena memang saya sangat tidak menguasai pelajaran itu. Sangat sulit bagi saya pada saat itu membayangkan mampukah saya melewati ujian pada saat itu, tapi untung keluarga dan teman-teman saya selalu mendukung segala usaha saya sehingga saya mendapatkan semangat dan motivasi yang baru dari mereka. Dan 4 bulan berlalu, hari ujian pun datang. Pada hari pertama ujian, kepala sekolah saya mengumpulkan semua peserta ujian di lapangan untuk mengadakan doa bersama dan menyemangati kami agar rileks dan menjawab soal dengan sebaik mungkin. Event ini tidak saya lewatkan, saat itu saya benar-benar berdoa agar Allah memudahkan saya dalam menjawab soal sehingga dapat memberikan hasil yang terbaik. Sampai di ruang ujian saya berusaha tenang dan santai. Dalam 3 hari mengerjakan ujian alhamdulillah semua lancar dan tidak ada kendala-kendala berarti yang saya temui. Dan pada saat hasil ujian diumumkan alhamdulillah saya lulus dan mendapatkan nilai yang di luar dugaan saya sama sekali karena nilai saya tersebut masuk dalam 20 nilai terbaik di sekolah. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya kemudahan dalam melewati semua itu dan memberikan kepada saya kebahagiaan yang tiada habis-habisnya.
Pengalaman mengikuti ujian, terakhir saya rasakan ketika ujian SMA ditahun 2007. Mengikuti ujian di SMA berbeda rasanya jika dibandingkan mengikuti ujian di SD ataupun di SMP. Ujian Nasional SMA tidak begitu membuat saya panik atau tertekan karena mungkin persiapan yang telah saya lakukan cukup banyak dan sekolah pun sangat membantu saya dalam menghadapi ujian tersebut. Persiapan mengikuti ujian nasional saya mulai dengan mengikuti bimbingan belajar Nurul Fikri (NF) setiap hari Jumat dan Sabtu. Di sana saya mendapatkan latihan soal-soal dan pendalaman materi yang lumayan dapat membantu saya memahami pelajaran-pelajaran yang diujikan. Selain itu disana juga dilaksanakan try out untuk mengerjakan soal-soal agar saya dapat menghadapi kondisi pada saat UN itu seperti apa dan bagaimana. Sekolah saya pun kemudian mengadakan kegiatan pendalaman materi setiap hari Sabtu dan Minggu dan kegiatan try out yang dilaksanakan setiap 2 minggu sekali di hari Jumat. Sebenarnya saya sempat jenuh dan muak juga karena setiap hari selalu bertemu dengan soal-soal dan tidak ada waktu libur untuk beristirahat. Karena itulah beberapa minggu menjelang UN saya jatuh sakit beberapa hari. Untungnya tidak terlalu parah dan kondisi kesehatan saya cepat pulih kembali. Pada hari H ketika ujian dilaksanakan saya berangkat terlalu pagi sehingga sampai di sekolah ternyata masih sepi. Kesempatan ini saya gunakan untuk membaca-baca sedikit materi yang akan diujikan hari itu. 3 hari saya lalui seperti itu dan tak terasa ujian telah selesai. Dalam ujian kali ini tidak ada hambatan atau sesuatu yang menyulitkan saya. Saya juga merasa tidak sia-sia mengorbanan waktu, biaya dan pikiran saya demi lancarnya ujian saya. Ketika pengumuman hasil ujian diberikan saya sangat senang karena siswa di sekolah saya lulus 100%. Saya sudah tidak peduli berapa nilai ujian saya, karena yang saya pikirkan adalah satu ujian telah saya lalui sebelum menuju uijan yang selanjutnya yang akan menentukan masa depan saya yaitu SPMB. Dan saya sangat bersyukur dengan semua itu. Terima kasih Ya Allah untuk semua nikmat yang tiada habisnya Engkau berikan kepadaku.




BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional atau yang sering disingkat UASBN merupakan ujian akhir bagi siswa-siswa sekolah dasar yang wajib diikuti oleh para siswa sekolah dasar kelas VI guna melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang telah dilakukan di sekolah-sekolah dasar selama kurang lebih 2 tahun ini mengakibatkn pro dan kontra. Namun di balik itu semua saya yakin pasti pemerintah selalu berusaha sekuat tenaga demi tercapainya pendidikan yang mengedapankan peningkatan mutu pendidikan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik.
Dalam kunjungan saya ke SDS. Borobudur Jakarta dan mewawancarai kepala sekolahnya yaitu Ibu Purwanti, dapat saya simpulkan bahwa penyelenggaraan UASBN di sekolah tersebut sudah cukup maksimal. Dimulai dari persiapan yaitu dengan mengadakan try out-try out yang berguna bagi siswa agar siswa dapat lebih mendalami materi pelajaran yang akan diujikan serta melatih mental mereka menghadapi USSBN yang sebenarnya.
Namun seiring berjalannya waktu terkadang siswa merasa jenuh dan stres dengan keseharian mereka menghadapi soal-soal sehingga membuat guru-guru menjadi sedikit khawatir. Tetapi guru-guru disana selalu memberi motivasi terhadap siswa-siswanya agar selalu semangat dan berusaha yang terbaik agar nantinya juga mendapatkan hasil yang terbaik. Disinilah peran guru dan orang tua sebagai pendidik di sekolah dan di rumah. Apabila anak sedang mengalami kebosanan dan stres maka guru dan orang tua dapat menyemangati mereka dan membuat mereka lebih bersemangat lagi untuk menghadapi UASBN.
Dalam pelaksanaan UASBN di sekolah swasta seperti SDS. Borobudur sama saja seperti sekolah lain, hanya saja yang membedakan di sekolah swasta terdapat biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian naskah soal UASBN itu. Dan hal itulah yang menjadi salah satu penghambat dalam pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur. Walaupun mereka sudah menetapkan kebijakan dengan menaikkan biaya SPP bagi siswa kelas VI sejak awal tahun ajaran baru ketika mereka naik ke kelas VI, namun terkadang ada beberpa wali murid yang masih keberatan akan hal itu. Dan hal tersebutlah yang akan terus di berikan jalan keluar sehingga permasalahan ini tidak terus menjadi penghambat berjalannya pelaksanaan UASBN.
Target SDS. Borobudur tahun ini dalam pelaksanaan UASBN adalah meluluskan siswa-siswanya 100%. Dan untuk mencapai itu sekolah akan terus berusaha dalam mempersiapkan siswa-siswanya dalam menghadapi UASBN sehingga harapan mereka untuk meluluskan siswanya 100% akan dapat terwujud.

3.2 Saran
Pelaksanaan UASBN di sekolah-sekolah dasar saya rasa sudah cukup tepat. Karena sudah jelas tujuan yang diharapkan dalam pelaksanaan UASBN adalah menilai pencapaian kompetensi secara nasional dan hasil UASBN tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan bagi pemetaan mutu satuan pendidikan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Namun mungkin saran saya, sebaiknya pemerintah secara merata harus memperhatikan kekurangan apa saja yang masih ada dalam pelaksanaan UASBN tersebut. Apakah standar minimal kelulusan itu telah dapat mewakili seluruh potensi siswa di seluruh Indonesia ini atau belum, karena jika tidak, pemerataan kualitas dan mutu pendidikan tidak akan terbagi secara merata dan nantinya itu akan membuat pendidikan di Indonesia akan semakin terpuruk.
Lalu pembiayaan bagi siswa-siswa yang kurang mampu seharusnya ditambahkan, karena melihat dari hasil wawancara saya dengan kepala sekolah SDS. Borobudur masih banyak orang tua murid yang merasa keberatan akan hal itu walaupun memang kembali ke orangtua masing-masing dalam mempertimbangkan anak-anak mereka masuk ke sekolah swasta itu karena apa.
Tapi usaha pemerintah dalam mewujdkan sistem pendidikan yang baik haruslah diberi dukungan selama itu tidak merugikan para peserta didik maupun orang-orang yang terlibat di dunia pendidikan ini. Sebagai warga negara yang baik kita hanya bisa mendoakan agar semua kebijakan pendidikan yang dikeluarkan pemerintah akan dapat membawa pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Amin.


















DAFTAR PUSTAKA

www.bsnp-indonesia.org
http://pontianakpost.com
http://beritasore.com/2008/07/22/279929-warga-sumut-buta-aksara/
http://www.poskupang.com/main/cont.php?content=file_detail&jenis=11&idnya=19426&detailnya=1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar