Minggu, 24 Mei 2009

25.000 Siswa di Nabire Terlantar

Oleh : ROW
Nabire, Para guru sekolah dasar di Kabupaten Nabire, Papua, sepakat melanjutkan mogok mengajar. Hingga Senin (17/9) ini aksi mogok mengajar para guru itu sudah memasuki pekan keempat.

Artinya, selama tiga pekan belakangan ini sebanyak 25.000 siswa SD di Nabire telantar. Mereka tidak mendapatkan hak mereka untuk belajar.

Atas aksi mogok para guru itu, Wakil Gubernur Papua Alex Hesegem menyatakan baru akan menurunkan tim dan masih menunggu laporan sementara dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua. Salah satu pemimpin aksi mogok mengajar, Yusak Ernes Tebay, menyatakan, dalam rapat guru yang dilakukan Jumat lalu disepakati agar mogok mengajar dilanjutkan.

"Kami tetap akan mogok mengajar sampai ada penjelasan soal penggunaan dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat bagi perbaikan sejumlah sekolah. Sebelum ada penjelasan ke mana larinya dana itu, mogok mengajar akan dilanjutkan," kata Kepala Sekolah SD Inpres Digiya itu.

Penyimpangan anggaran

Sebagaimana diberitakan, sebanyak 1.079 guru SD di Kabupaten Nabire mogok mengajar untuk menyikapi dugaan penyalahgunaan DAK perbaikan sarana dan prasarana sekolah tahun 2003-2007.

Para guru menyatakan, dana alokasi khusus itu seharusnya digunakan untuk merehabilitasi ruang belajar, sanitasi sekolah, pengadaan mebel, renovasi rumah dinas guru, pengadaan sarana dan prasarana perpustakaan sekolah, serta pengadaan alat peraga.

Tebay mengatakan, mogok itu bermula dari ditemukannya sejumlah dokumen pertanggungjawaban dana alokasi khusus yang mengatasnamakan sejumlah SD, termasuk SD Inpres Digiya, yang tidak pernah menerima penyaluran DAK itu. Tebay juga menyatakan tanda tangannya telah dipalsukan dalam dokumen pertanggungjawaban DAK itu.

Hingga Sabtu, sebanyak 196 SD di Nabire lumpuh dan tidak bisa menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.

Wakil Gubernur Papua menjelaskan, dirinya telah mengetahui para guru SD di Nabire mogok mengajar. Akan tetapi, ia menyatakan, sampai Sabtu lalu belum ada laporan mengenai duduk masalah yang memicu aksi mogok mengajar itu. "Saya belum mendapat laporan apa yang menyebabkan anak-anak tidak (bisa) bersekolah," kata Hesegem.

Ia mengakui, ada sejumlah dugaan bahwa proyek perbaikan sarana-prasarana tidak sampai. Untuk itu, dia akan mengirimkan tim untuk mencari keterangan soal duduk perkara kenapa para guru sampai mogok.

(sumber: kompas)

http://www.infopapua.com/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=4777&title=25.000%20Siswa%20SD%20di%20Nabire%20Telantar%20...by.Jier-Trendo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar