Minggu, 17 Mei 2009

Teaching Peacemaking

Oleh: Joshua W. Utomo

Proses penyebaran semangat perdamaian yang menjadi tema sentral dari workshop ini lebih difokuskan pada komunitas sekolahan (baik yang bernaung di bawah lembaga-lembaga pemerintah ataupun swasta), dan kelompok-kelompok organisasi remaja dan pemuda yang amat dinamik dan penuh gejolak itu.

Lokasi utama penyebaran semangat perdamaian di sekolah-sekolah ataupun kelompok-kelompok organisasi remaja dan pemuda ini memang tidaklah berlebihan adanya. Sebab selain keluarga dan lingkungan masyarakat secara umum, sekolah dan kelompok-kelompok organisasi remaja/pemuda ini memiliki nilai dan faktor pendukung yang amat 'vital' terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan mental/psykologikal, pengetahuan dan daya kreatifitas, serta kerohanian/spritualitas dari generasi mendatang ini.

Sekolah dan kelompok-kelompok organisasi remaja dan kepemudaan inipun memiliki peranan yang luar biasa bagi berhasilnya proses pertumbuhan dan penyebaran dari semangat cinta damai, rekonsiliasi dan keadilan.

Berangkat dari pengalaman yang sedemikian mengendap ditambah dengan kepiawaian menyajikan bahan diskusi secara dialogis (bahkan multi-dialogis), plus keterbukaan beliau dalam berbagi sumber pustaka (referensi) sekitar tema yang sentral ini, Madeleine Trichel berhasil menyedot 'atensi' (perhatian) seluruh peserta workshop.

Dari salah satu lembaran makalah yang saya terima "A Guide for Teaching Peacemaking" itu, saya ingin mengadaptasi secara bebas kedalam bahasa kita beberapa prinsip dalam Mengajar usaha menciptakan Perdamaian (Principles for Teaching Peacemaking) yang saya pikir berguna bagi guru (staf pengajar) di Indonesia, dan juga buat setiap insan yang cinta damai dan yang mengidamkan sebuah komunitas yang harmoni, penuh kerukunan dan kasih sayang itu.

Prinsip-prinsip Mengajar Penciptaan Perdamaian ini adalah sebagai berikut:

1. Be creative: Jadilah seorang yang penuh kreatifitas.

Terima dan akomodasi talenta/bakat-bakat dari setiap orang (guru dan siswa/I). Doronglah daya imaginasi mereka dan cobalah untuk selalu siap sedia dalam mengantisipasi segala respon ataupun pertanyaan, bahkan yang terburuk sekalipun di ruang kelas. Dan pilihlah kegiatan-kegiatan yang mendorong daya pikir kreatif sekaligus praktek secara langsung di lapangan.

2. Be intentional: Bila melakukan sesuatu, lakukanlah dengan suatu maksud yang jelas, pikirkan dan renungkan sebelum melakukan dan selama dalam proses melakukan setiap bagian dari program pengajaran perdamaian ini. Tak lupa perhatikan hal-hal sekalipun itu nampak sepele, sebab hal-hal yang dianggap sepele pun dapat digunakan untuk mengajar siswa-siswi diruang kelas kita.

Perhatikan juga tentang penggunaan bahasa dan setiap kata yang kita gunakan dalam proses pengajaran ini. Berbicaralah secara terbuka tentang konflik, sebab ini akan mendorong anak-anak kita untuk bertanya-tanya, untuk berbagi rasa takut mereka, untuk membantu mereka bergumul dengan ide-ide yang sulit untuk mereka cerna.

Saat anak-anak kita tahu bahwa orang-orang dewasa terus berjuang demi melawan kekerasan dan konflik, mereka pun akan merasa lebih aman, dan juga akan memberikan pengharapan kepada mereka, bahwa masih ada manusia-manusia dewasa yang terus berjuang demi perdamaian dan kasih sayang di bumi ini.

3. Use Symbols: Gunakan simbol-simbol dengan tujuan yang jelas. Simbol-simbol membuat hal-hal yang abstrak menjadi jelas dan mudah untuk dimengerti. Sebab dengan simbol-simbol tersebut kita bisa meraba, melihat, mendengar, ataupun merasakan hal-hal yang tadinya abstrak.

Simbol-simbol itu mungkin bersifat amat pribadi atau mungkin pula memiliki makna yang mendalam bagi keseluruhan anggota anak didik kita. Tentu saja simbol-simbol ini sungguh penting bagi mereka, karena mungkin saja bahwa simbol-simbol tersebut 'menggembol' ketakutan, harapan, dan cita-cita anak-anak didik kita (dan juga kita semua).

Dari antara sekian banyak simbol-simbol, aksi nyata yang simbolik (symbolic actions) memiliki pengaruh yang sangat kuat dan mendalam terhadap anak-anak didik kita. 'Symbolic actions' ini penuh dengan kreatifitas, tujuan yang jelas, dan pengharapan.

4. Balance structure and choice: Seimbangkan pilihan dan struktur. Mengajar Perdamaian tidaklah berarti bahwa para guru atau orang dewasa membiarkan anak-anak membuat seluruh keputusan sendiri.

Tapi lebih berarti bahwa para pemimpin (guru dan orang dewasa) menyusun sebuah struktur dan lingkungan yang mampu memberikan ruang bagi anak-anak didik untuk memilih. Dengan kata lain para guru haruslah menyediakan alternatif-alternatif yang darinya anak-anak didik kita bisa memilih.

Dengan memberikan pilihan diantara pelbagai bentuk aktifitas dalam proses pengajaran, para guru telah menunjukkan kemampuannya tentang konsep penting lainnya yaitu: penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan diantara anak-anak didik.

5. Enrich the environment: Salah satu bentuk konkrit dalam usaha memperkaya lingkungan belajar ini adalah dengan jalan memberikan pilihan-pilihan. Sebagai tambahan, para guru bisa juga mencoba membuat ruang kelas lebih atraktif dan nyaman terhindar dari segala bentuk gangguan. Musik-musik lembut bertemakan perdamaian, dekorasi ceriah tapi elegan, serta tata letak 'furniture' pun turut mendukung suasana 'damai' dalam ruang kelas kita.

6. Value individuality and differences: Berikan perhatian khusus dan apresiasi terhadap setiap perbedaan. Hargai perbedaan kultur (cultural diversity) dan setiap keunikan karakter/pribadi dari anak-anak didik kita. Belajarlah untuk lebih kreatif dalam menggunakan keberbedaan-keberbedaan yang ada seperti: umur, talenta/bakat khusus, suku bangsa, agama, juga belajarlah untuk memahami bagaimana cara hidup dan pikir dari orang lain.

7. Teach cooperation: Sewaktu masih belia anak-anak didik kita (dan kita semua!) hidup dalam dunia yang diwarnai oleh kerjasama dan kasih sayang. Tapi tak lama setelah itu, dimensi baru yang lebih diwarnai oleh kompetisi (bahkan tak jarang amat brutal!) membuat anak-anak didik kita (dan kita semua!) lupa tentang semangat kerjasama, saling bantu-membantu.

Semangat kerjasama ini haruslah diajarkan secara berkesinambungan. Jangan melakukan aktifitas-aktifitas yang mendorong adanya semangat kompetisi. Tapi gunakan bentuk-bentuk aktifitas dan permainan yang bersifat saling membantu. Tunjukkan bahwa usaha-usaha setiap individu 'fit' dalam kehidupan ini. Tapi perlu untuk diingat bahwa kita tidak perlu berkotbah melawan kompetisi.

8. Teach non-violent conflict management: dengan mengajarkan konflik manajemen tanpa kekerasan, kita menunjukkan bahwa konflik itu nyata dalam hidup ini sehingga menjadikan apa yang kita ajarkan itu lebih bisa dipercaya. Adalah lebih tepat bila kita berdiskusi tentang 'manajemen', bukannya 'pemecahan' (resolution) atas konflik-konflik dalam hidup ini. Sebab ada banyak konflik dalam hidup ini yang tak akan pernah terpecahkan.

9. Be positive and empowering: gunakanlah kata-kata yang bersifat membangun. Dorong anak-anak didik kita agar memiliki suatu visi yang bersifat kedepan. Bagikan visi anda sendiri kepada anak-anak didik kita. Milikilah keyakinan bahwa perdamaian itu mungkin direalisasikan. Ajar setiap anak didik kita apa yang dapat mereka lakukan sebagai individu guna membuat bumi ini semakin hari semakin damai sejahtera. Ceritakan cerita-cerita hidup para pecinta damai, berikanlah kepada anak-anak didik kita pahlawan-pahlawan dan 'role model' yang mencintai dan menghidupi kehidupan kedamaian.

10. Define peacemaking: 'Peacemaking' adalah suatu aktifitas nyata. Ini adalah suatu jalan hidup, sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari kita mengasosiasikan istilah 'damai/perdamaian' dengan 'kenyamanan dan ketenangan' dan melihat 'damai/perdamaian' sebagai sesuatu yang menjemukan, tak menarik dan terlalu serius atau bahkan jauh dari aktifitas pop masa-kini. Tapi dengan menggunakan aktifitas-aktifitas yang melibatkan setiap anak didik kita dalam usaha mendefinisikan 'damai/perdamaian' ini bagi diri mereka sendiri, melalui permainan-permainan dalam semangat kerjasama, lagu-lagu perdamaian, perbincangan secara langsung dengan para tokoh perdamaian, kegiatan kultural, dan pengalaman secara langsung dilapangan mengenai bagaimana memanajemen konflik, setiap hal yang berkaitan dengan 'damai/perdamaian' ini mungkin akan mampu menyerap daya tarik anak-anak didik kita.

Salam hangat, Joshua W. Utomo Psikoterapis, penyair, corporate trainer/entertainer, motivator/hipnoterapis, dan penulis yang sekarang sedang berkelana di Boston, AS. Dia adalah pendiri dari Heal & Grow CenterT (www.healandgrowcenter.com) sebuah pusat penyembuhan holistik. Bersama istrinya (Cynthia C. Laksawana) mendirikan Sanggar KinanthiT(www.sanggar-kinanthi.com) dan JW Utomo ProductionsT (http://masterhypnotistusa.tripod.com) sebagai wahana mereka berseni-budaya dan berkiprah bagi kemanusiaan. Dia dapat dihubungi via prof_jw@yahoo.com.

http://re-searchengines.com/0306joshua.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar