Selasa, 26 Mei 2009

Laporan Observasi "Penyelenggaraan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta" (revisi)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Evaluasi Pengajaran, penulis mengadakan observasi mengenai pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di sekolah yang dikunjungi. Penulis melakukan observasi di SDS. Borobudur Jakarta. Di sekolah tersebut penulis melakukan wawancara dengan kepala sekolah untuk bertanya mengenai pelaksanaan UN atau untuk SD disebut dengan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa ujian akhir mutlak diikuti oleh siswa yang akan menamatkan pendidikan pada tiap jenjang pendidikan. Para siswa harus menempuh ujian sekolah yang di dalamnya terdapat ujian praktek untuk mata pelajaran tertentu dan ujian teori, kemudian ujian nasional (UN) bagi SMP/MTs, SMA SMK/MA serta ujian bertaraf nasional (UASBN) bagi SD/MI.
Para peserta didik yang mengikuti UASBN dinyatakan lulus apabila nilai mereka telah memenuhi standar nilai yang telah ditentukan. Namun biasanya, yang menjadi tantangan besar bagi peserta didik dan sekolah adalah bagaimana cara atau upaya yang dilakukan supaya para peserta didik dapat lolos pada UASBN dengan standar kelulusan yang telah ditentukan tersebut. Sehubungan dengan itulah, maka sekolah, para peserta didik dan orangtua perlu menyikapi atau meresponnya dengan berbagai cara dan upaya yang positif agar berhasil nantinya.
Mengingat UASBN merupakan tahapan penting menuju tercapainya tujuan pendidikan nasional, maka hal tersebut perlu dipersiapkan dengan baik. Oleh karena itu, penulis menangkat masalah ini sebagai bahan pemenuhan tugas akademik mata kuliah Evaluasi Pengajaran yang hasilnya nanti dapat dipelajari bagi pembaca maupun penulis sendiri.
Penulis mengadakan observasi di SDS. Borobudur Jakarta ini karena sekolah ini merupakan sekolah dimana dahulu penulis menyelesaikan tingkat sekolah dasarnya. Oleh karena itu sekolah ini dirasa akan dapat membantu penulis dalam menyelesaikan tugas ini. Selain itu sekolah ini terletak tidak jauh dari rumah penulis sehingga pada saat melakukan observasi dirasa tidak perlu memerlukan banyak tenaga dan waktu. Dan ternyata benar, sekolah ini sangat membantu penulis dalam menyelesaikan tugas akdemiknya ini.

B. Identifikasi Masalah
Dengan memperhatikan masalah di atas, penulis mengidentifikasi masalah yang perlu diidentifikasi. Masalah-masalah tersebut antara lain :
a. Mengapa dilaksanakan UASBN di sekolah ?
b. Bagaimana kegiatan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta ?
c. Bagaimana pengalaman Ujian Nasional yang pernah dialami penulis ?

C. Pembatasan Masalah
Dari masalah yang timbul, penulis membatasi masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana perencanaan dalam melaksanakan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta ?
b. Bagaimana pengorganisasian pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarata ?
c. Bagaimana pengawasan yang dilakukan dalam pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta ?
d. Apa saja masalah yang ditemui dalam pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta dan bagaimana SDS. Borobudur dalam mengatasi masalah-masalah tersebut ?

D. Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui mengapa perlu diadakan UASBN di sekolah.
2. Mengetahui bagaimana pelaksanaaan kegiatan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta mulai dari perencanaan sampai dengan pengawasannya.
3. Mengetahu apa saja masalah yang ditemui dalam pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta dan bagaimana mengatasinya.
4. Mengetahui bagaimana pengalaman pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta.




































BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Evaluasi Belajar
Ada beberapa pengertian evaluasi menurut beberapa ahli. Dari sekian buku yang penulis baca mengenai pengertian evaluasi, dapat dikutip pengertian evaluasi sebagai berikut :
• Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), kata evaluasi berarti penilaian.
• Menurut buku Pengantar Evaluasi Pendidikan karangan Prof. Anas Sudijono, secara harafiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation yang berarti penilaian. Akar katanya adalah value yang berarti nilai. Adapun dari segi istilah, maka evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukkan nilai dari sesuatu.
• Menurut buku Mengajar Dengan Sukses karangan J. Mursell dan Prof. Dr. S. Nasution, M.A. evaluasi merupakan penilaian belajar dengan tujuan untuk memperbaikinya. Penilaian itu harus dilakukan oleh semua yang bersangkutan yaitu bukan hanya guru tetapi terutama juga anak-anak sendiri penilaian harus ditinjau sebagai keseluruhan. Hal-hal seperti teknik dalam pegolahannya mengubah skor mentah menjadi angka dan sebagainya adalah bagian-bagian daripada keseluruhan evaluasi. Tak satupun diantaranya yang mengenai inti dari evaluasi. Guru harus melihat bagian-bagian itu dan keseluruhan evaluasi. Berikut prinsip evaluasi dalam penilaian cara mengajar :
 Evaluasi hanya mengenai hasil terutama hasil yang berlangsung
 Evaluasi terutama mengenai hasil dengan perhatian sedikit terhadap proses belajar
 Evaluasi terhadap seluruh proses belajar termasuk hasilnya
• Menurut buku Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan karangan Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, evaluasi merupakan suatu kegiatan yang meliputi dua langkah yaitu mengukur dan menilai. Mengukur disini berarti membandingkan sesuatu dengan satu ukuran dan pengukuran ini bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai berarti mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk, penilaian ini bersifat kualitatif.
• Menurut Edwin Wandt dan Gerald W. Brown (1977), evaluation refer to the act or process to determining the value of something. Lalu dari artikel yang saya baca mengenai evaluasi, *evaluation is the process of determining significance or worth, usually by careful appraisal and study. **Evaluation is the analysis and comparison of actual progress vs. prior plans, oriented toward improving plans for future implementation. It is part of a continuing management process consisting of planning, implementation, and evaluation; ideally with each following the other in a continuous cycle until successful completion of the activity. ***Evaluation is the process of determining the worth or value of something. This involves assigning values to the thing or person being evaluated..
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah pencapaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.
Evaluasi berguna untuk mempertinggi hasil pelajaran. Karena itu evaluasi tak dapat dipisahkan dari belajar dan mengajar. Efektivitas dan sukses dari tiap pelajaran dipertinggi dengan penilaian yang teliti dari segala aspeknya. Itulah prinsip evaluasi. Berikut ciri-ciri evaluasi yang baik :
1. Evaluasi dan Hasil Langsung, tiap orang belajar untuk mencapai sesuatu hasil. Itulah yang pada hakikatnya merangsang seorang untuk belajar. Oleh karena itu pelajaran harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga murid sepenuhnya mengetahui hasil pekerjaannya.
2. Evaluasi dan Transfer, berhasil atau tidaknya belajar bergantung pada terdapat atau tidaknya hasil belajar itu digunakan di dalam situasi-situasi tertentu. Evaluasi yang baik harus menilai hasil-hasil autentik dan ini dilakukan dengan mengetes hingga manakah hasil itu dapat ditransferkan.
3. Evaluasi Langsung dari Proses Belajar, tak dapat disangkal betapa pentingnya untuk meneliti proses yang diikuti oleh murid sehingga guru akan mengetahui dimana letak kesulitan anak-anak lalu mencari jalan untuk membantunya. Selain itu penelitian proses belajar berguna bagi murid sendiri. Anak akan melihat kekurangannya dengan memperbaikinya dengan demikian akan mempertinggi hasil belajar.

B. Teknik Evaluasi
Istilah teknik dapat diartikan sebagai alat. Jadi dalam istilah, teknik-teknik evaluasi hasil belajar mengandung arti alat-alat yang dipergunakan dalam rangka melakukan evaluasi hasil belajar. Dalam konteks evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah, dikenal adanya dua macam teknik yaitu teknik tes dan teknik nontes. Dengan teknik tes, maka evaluasi hasil proses pembelajaran di sekolah itu dilakukan dengan jalan menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan teknik nontes maka evaluasi dilakukan tanpa menguji peserta didik. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penilaian tes dan nontes akan dijelaskan lebih rinci lagi sebagai berikut :
a. Teknik Tes
Yang dimaksud dengan tes adalah cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh peserta tes sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi peserta tes, dimana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai para peserta tes lainnya atau dibandingkan dengan nilai stndar tertentu.
Secara umum fungsi dari tes yaitu sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Selain itu tes juga berfungsi sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah berapa jauh program pengjaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.
Ada beberapa jenis tes dalam proses kegiatan belajar. 1) tes diagnostik yang merupakan tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara tepat, jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. 2) tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik telah terbentuk sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. 3) tes sumatif yang berarti tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan.
b. Teknik Non-Tes
Kegiatan evaluasi atau pengukuran itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya. Dalam praktek, teknik tes inilah yang lebih sering dipergunakan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik. Pernyataan tersebut tidaklah harus diartikan bahwa teknik tes adalah satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan yaitu teknik nontes. Dengan teknik ini maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis).
a. Pengamatan atau Observasi
Cara menhimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sisematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Observasi ini digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
b. Wawancara
Cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Dalam wawancara evaluator melakukan tanya jawab lisan dengan pihak-pihak yang diperlukan seperti peserta didik, orang tua murid, dll dalam rangka menghimpun bahan-bahan keterangan untuk penilaian terhadap peserta didiknya.
c. Angket
Berbeda dengan wawancara dimana evaluator berhadapan secara langsung dengan pihak yang diwawancarai, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja, jawaban-jawaban yang diberikan acapkali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, apalagi jika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam angket itu kurang tajam, sehingga memungkinkan bagi responden untuk memberikan jawaban yang diperkirakan akan melegakan atau memberi kepuasan kepada pihak penilai.
d. Pemeriksaan Dokumen
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen. Berbagai informasi baik mengenai peserta didik, orang tua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.
Teknik non-tes ini pada umumnya memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain), dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknik tes sebagimana telah dikemukakan sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dar segi ranah proses berpikirnya (cognitive domain).













BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Observasi
Observasi dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah Evaluasi Pengajaran ini dilakukan penulis pada hari Senin tanggal 23 Februari 2009. Pada saat itu penulis sudah membuat janji sebelumnya dengan Kepala Sekolah SDS. Borobudur via telepon dan meminta izin untuk mengadakan observasi pada hari tersebut. Pihak sekolah pun menyetujui dan penulis dapat melaksanakan tugas observasinya sesuai dengan rencana.
Tempat observasi yang dipilih penulis dalam menyelesaikan tugas ini adalah di SDS. Borobudur Jakarta yang tepatnya berada di Jalan Raya Cilandak KKO Jakarta Selatan. Pada saat melakukan observasi, penulis melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah SDS. Borobudur di Ruang Kepala Sekolah. Tempat observasi ini dirasa cukup tepat bagi penulis untuk mengadakan observasi karena pihak sekolah tersebut sangat membantu penulis dalam menyelesaiakn tugas observasi ini.

B. Responden atau Informan
Dalam penyelesaian tugas observasi ini penulis melakukan wawancara dengan Ibu Purwanti selaku Kepala Sekolah SDS. Borobudur. Beliau sangat membantu sekali, hal tersebut terbukti dengan kesanggupan beliau dalam menjawab semua instrumen pertanyaan yang diajukan oleh penulis. Selain itu beliau juga memberikan semua data-data dan dokumen yang mungkin akan dibutuhkan penulis dalam menyelesaikan tugas ini.

C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penyelesaian tugas ini adalah dengan wawancara dan pengamatan. Penulis mengadakan wawancara dengan Kepala Sekolah SDS. Borobudur dan mengajukan beberapa pertanyaan sesuai dengan instrumen yang telah dibuat oleh penulis. Wawancara ini dilakukan untuk mengumpulkan berbagai data yang dibutuhkan penulis melalui tanya jawab dengan Kepala Sekolah yang bersangkutan.
Selain wawancara, penulis juga melakukan pengamatan di kelas tempat para siswa belajar, khususnya kelas VI. Pada saat melakukan pengamatan, penulis dapat secara umum mengambil kesimpulan sementara mengenai bagaimana persiapan SDS. Borobudur ini dalam menghadapai UASBN.

D. Instrumen Pengumpulan Data
Karena teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah dengan wawancara dan pengamatan, maka instrumen pengumpulan data yang dipakai penulis adalah berupa draft pertanyaan yang memang telah dipersiapkan penulis sebelum observasi di sekolah tersebut dilaksanakan. Berikut draft pertanyaan yang dibuat oleh penulis dalam melakukan wawancara :
• Menurut Anda pentingkah diadakan UN di sekolah ?
• Seandainya penting, apa manfaat dari diadakannya UN tersebut ?
• Bagaimana perencanaan dan persiapan sekolah ini dalam menghadapi UN tahun ini ?
• Bagaimana pengorganisasian pelaksanaan UN di sekolah ini ?
• Apa saja masalah yang di temui dalam persiapan menghadapi UN tahun ini ?
• Bagaimana upaya sekolah dalm mengatasi masalah-masalah yang muncul tersebut ?
• Bagaimana perilaku siswa dalam menghadapi UN tahun ini ?
• Bagaimana hasil UN tahun lalu di sekolah ini dan apa harapan untuk hasil UN di sekolah tahun ini ?


E. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data yang telah terkumpul pada saat melakukan observasi, maka penulis menyimpulkan data-data tersebut secara deskriptif dan membuat laporan secara naratif dari hasil wawancara yang ditambah dengan hasil pengamatan di lapangan. Dengan begitu akan dapat dipahami dengan mudah hasil dari observasi yang telah dilakukan oleh penulis di SDS. Borobudur Jakarta ini.





















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil SDS. Borobudur Jakarta
Sekolah Dasar Swasta (SDS) Borobudur Jakarta adalah sekolah dasar dimana saya dahulu bersekolah. Di sekolah ini saya untuk pertama kalinya belajar membaca, menulis dan berhitung. Sekolah ini terletak di Jalan Raya Cilandak KKO Kelurahan Cilandak Timur Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Sekolah ini berstatus sebagai sekolah swasta dan bernaung di bawah sebuah yayasan yang bernama Yayasan Pendidikan Kartini. Sekolah ini berdiri pada tahun 1974 dan didirikan oleh Ibu Nina Achmad yang pada saat itu berlaku sebagai ketua yayasan.
Sekolah ini memiliki total 13 ruangan yang diantaranya dipakai sebagai ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan dan ruang laboratorium komputer. Pada saat saya melakukan observasi, sekolah ini sedang dalam tahap renovasi. Sekolah ini termasuk sekolah yang memiliki prestasi yang lumayan membanggakan karena setiap tahunnya seluruh siswa di sekolah ini selalu lulus dan 90% siswa yang lulus tersebut di terima di SMP Negeri. Oleh karena itu sampai saat ini sekolah ini tetap mendapatkan banyak siswa baru yang tiap tahunnya selalu bertambah jumlahnya. Selain itu lokasinya yang jauh dari jalan raya membuat proses belajar mengajar tidak terganggu oleh bisingnya lalu lintas, oleh karena itu siswa dapat lebih berkonsentrasi lagi dalam menjalankan proses belajar mengajar di kelas.

B. Perencanaan dan Persiapan di SDS. Borobudur Jakarta Dalam Menghadapi UASBN
Dalam menghadapi UASBN yang akan diselenggarakan pada pertengahan bulan Mei tahun 2009 ini SDS. Borobudur telah melakukan perencanaan dan persiapan yang cukup matang bagi siswa untuk menghadapi hari H ujian. Perencanaan yang dilakukan meliputi pembentukan panitia pelaksana UASBN di sekolah, melakukan persiapan dalam hal tempat/kelas yang nantinya dipakai dalam pelaksanaann UASBN di sekolah tersebut dan melakukan persiapan antara lain dengan mengadakan kegiatan tambahan yaitu kegiatan pendalaman materi yang dilakukan setiap harinya sepulang sekolah. Selain itu sekolah yang bekerjasama dengan sekolah-sekolah dasar di lingkungan sekitar mengadakan try out yang soal-soalnya merupakan soal yang di buat dari sekolah-sekolah tersebut. Nantinya soal-soal tersebut akan ditukar satu sama lain secara bergantian. Try out ini dilakukan setiap hari di awal pelajaran. Try out ini telah dilaksanakan sejak bulan Februari sampai beberapa minggu menjelang UBN tersebut dilaksanakan.
Selain kegiatan yang diadakan oleh sekolah, siswa juga disarankan mengikuti try out yang diadakan oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar. Hal tersebut akan sangat berguna bagi siswa untuk memperbanyak pengetahuan mereka mengenai soal-soal yang akan diujikan dan melatih mental mereka sebelum menghadapi UASBN yang sebenarnya.
Dalam menghadapi UASBN tahun ini SDS. Borobudur sangat protect dalam memperhatikan perkembangan siswa-siswanya dalam menghadapi UASBN. Hal ini dilakukan sekolah demi mendapatkan hasil yang terbaik dan memenuhi target sekolah mereka dengan meluluskan siswa-siswanya 100%. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru juga berkoordinasi dengan para orang tua murid agar memperhatikan tingkah laku anak selama di rumah dan memantau perkembangan belajar anak-anak mereka dirumah. Hal ini dilakukan agar setiap kegiatan anak di luar sekolah tidak sampai mengganggu konsentrasi mereka menghadapi UASBN yang akan segera datang. Peran orang tua sangatlah penting karena dari mereka pula seorang anak terbentuk menjadi pribadi yang berbeda-beda. Diharapkan orang tua sangat mendukung dan membantu program-program persiapan UASBN yang telah ditetapkan oleh sekolah, dengan begitu sekolah akan dengan tenang melaksanakan UASBN.

C. Pengorganisasian Dalam Penyelenggaraan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada sekolah dasar telah di tetapkan 2 tahun belakangan ini. Dalam menghadapi hal tersebut SDS. Borobudur melakukan koordinasi kerja dengan membentuk tim panitia pelaksana UASBN di sekolah ini. Dalam tim tersebut terdapat pembagian tugas sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Panitia tersebut meliputi ketua panitia yang bertugas untuk mengatur segala kegiatan mulai dari perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, sampai nantinya evaluasi kegiatan. Lalu terdapat juga bagian pengambilan soal ke rayon yang bertanggung jawab atas pengadaan soal di sekolah tersebut ketika kegiatan UASBN dimulai, lalu bagian konsumsi yang bertanggung jawab atas pengadaan konsumsi bagi pengawas dari sekolah lain pada saat melakukan pengawasan di SDS. Borobudur, lalu bagian keuangan yang mengumpulkan dan mengatur semua biaya untuk keperluan UASBN seperti pembelian soal, pengadaan kelengkapan alat tulis, dll. Jumlah panitia untuk kegiatan UASBN ini tidak terlalu banyak, karena guru-guru yang lain telah mendapatkan tugas sebagai pengawas di sekolah lain yang telah ditetapkan.
Semua panitia yang terbentuk saling berkoordinasi melalui rapat-rapat yang diadakan secara intern. Dalam kegiatan UASBN tahun ini panitia sangat serius sekali dalam mengerjakan tanggung jawabnya, hal tersebut dilakukan agar setiap kegiatan yang berlangsung nantinya dapat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam pengorganisasian kelas, pada pelaksanaannya SDS. Borobudur akan menggunakan 2 ruangan, dimana ruang 1 diisi oleh 16 siswa dan ruang 2 diisi oleh 15 siswa. Setiap ruangan diawasi oleh 2 orang pengawas.
Menghadapi UASBN tahun ajaran 2008-2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 11-13 Mei 2009, SDS. Borobudur beharap agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar seperti tahun sebelumnya atau bahkan lebih baik. Hal tersebut pastinya akan memacu semangat para guru dan murid dalam memberikan hasil yang terbaik dari proses belajar mengajar yang telah mereka lakukan selama 6 tahun di sekolah dasar.
Dengan melihat keseriusan semua guru di sekolah ini, terlihat bahwa sekolah sangat menginginkan bahwa setiap kegiatan UASBN pada hari H nanti dapat berjalan dengan lancar.

D. Pengawasan Dalam Pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
Sistem pengawasan yang dilakukan dalam penyelenggaraan UASBN di SDS.Borobudur Jakarta adalah dengan sistem pengawas silang. Dalam sistem ini terdapat pembagian tempat bagi guru-guru khususnya guru kelas VI untuk melakukan pengawasan di sekolah lain yang masih satu rayon dengan SDS. Borobudur. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kecurangan pada saat hari pelaksanaan UASBN di sekolah.
Dalam sistem ini, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan UASBN di sekolah adalah kepala sekolah yang bersangkutan beserta panitia inti penyelenggara UASBN di sekolah. Pengawasan ini harus dilakukan berdasarkan prosedur dan aturan yang berlaku yang dikeluarkan oleh pusat.
Selain itu terdapat pula pengawas independen yang berasal dari kalangan independen seperti mahasiswa. Hal tersebut sudah dilakukan beberapa tahun terakhir ini, karena pengawas independen sangat dibutuhkan sekolah untuk membantu proses pengawasan kegiatan UASBN tersebut dimana mereka bertindak sebagai pengawas netral yang berasal dari luar sekolah yang bersangkutan.
Dengan begitu diharapkan penyelenggaraan UASBN di sekolah dasar-sekolah dasar akan berjalan dengan baik sesuai dengan rencana sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai serta terjadi peningkatan kualitas dalam kelulusan anak-anak sekolah dasar di tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu.

E. Masalah-Masalah yang Ditemui Dalam Pelaksanaan UASBN di SDS.Borobudur Jakarta
Ada beberapa masalah yang dihadapi SDS. Borobudur Jakarta dalam menghadapi UASBN. UASBN yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi membuat sebagian siswa-siswa kelas VI di SDS. Borobudur bertingkah laku tidak seperti biasanya Walaupun hal tersebut hanya terjadi pada beberapa anak, namun hal itu membuat para guru khususnya wali kelas VI menjadi sedikit khawatir. Menurut pemantauan wali kelas dan kepala sekolah, ada beberapa anak yang agak sedikit stres dan cenderung menjadi tidak bersemangat dan tidak berkonsentrasi ketika kegiatan belajar mengajar di kelas sedang berlangsung. Hal tersebut dianggap wajar oleh para guru setempat karena dalam pemikiran mereka mungkin siswa memang sudah lelah dan bosan menghadapi soal-soal setiap harinya. Selain itu UASBN merupakan hal yang akan menjadi pengalaman pertama bagi mereka dalam menghadapi ujian bertaraf nasional.
Terkadang bahkan ada siswa yang terlalu memforsir porsi belajar mereka di rumah, sekolah maupun bimbingan belajar sehingga sampai jatuh sakit. Menurut kepala sekolah, tahun lalu pernah ada seorang siswa yang terlalu memforsir dirinya untuk belajar dan pada hari H ujian, anak tersebut justru sakit dan tidak dapat mengikuti ujian. Hal itulah yang dikhawatirkan oleh para guru pada persiapan UASBN tahun ini. Mereka berharap peristiwa tersebut tidak terulang kembali. Oleh karena itu guru sebisa mungkin selalu memotivasi para siswanya agar tetap santai dan berusaha yang terbaik dalam menjalankan UASBN nanti.
Pelaksanaan UASBN di sekolah dasar swata dengan sekolah dasar negeri tidaklah jauh berbeda. Dalam hal ini yang membedakan dalam pelaksanaan UASBN adalah mengenai pembiayaan dan pembelian soal-soal untuk sekolah dasar swasta. Pembiayaan inilah yang menjadi hambatan pelaksanaan UASBN di sekolah swasta seperti SDS. Borobudur.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah SDS. Borobudur, masalah pembiayaan untuk pembelian soal-soal ujian merupakan masalah utama yang setiap tahunnya selalu ditemui. Sebenarnya mereka tidak mau memberatkan orang tua murid untuk memenuhi hal tersebut, namun memang keadaan yang mengharuskan seperti itu. Seperti diketahui bahwa SDS. Borobudur merupakan sekolah dasar swasta yang segala biaya administrasi sekolah ditanggung oleh pihak sendiri (bukan pemerintah). Oleh karena itu dalam hal menyiapkan soal-soal UASBN pun sekolah harus mengeluarkan kebijakan sendiri kepada orang tua murid agar bisa dilunasi sebelum penyelenggaraan UASBN berlangsung.
Selain pembiayaan, hambatan yang ditemui dalam menghadapi pelaksanaan UASBN antara lain soal kesiapan siswa. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya mengenai perilaku siswa yang sedikit berubah menjelang UASBN, ternyata hal tersebut merupakan suatu hambatan yang terkadang ditemui di SDS. Borobudur. Apabila seorang siswa sudah stres atau lelah dalam menghadapi soal-soal, maka guru juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena akan percuma memaksakan mereka untuk terus belajar apabila mereka sudah lelah. Namun, semua hambatan tersebut tidaklah membuat para guru putus asa untuk terus memberikan layanan yang terbaik bagi murid-muridnya.

F. Upaya Dalam Mengatasi Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur Jakarta
Dengan adanya masalah-masalah diatas maka harus ada upaya-upaya yang maksimal dalam mengatasinya sehingga proses pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur tidak terhambat. Dalam hal perlilaku siswa yang sedikit berubah, sekolah menanggapi bahwa hal tersebut adalah wajar. Namun mereka tetap berupaya membantu siswa dengan memberikan motivasi yang lebih terhadap siswa-siswa tersebut. Selain itu guru yang sedang mengajar di kelas diusahakan agar membawa suasana kelas menjadi lebih menyenangkan dan tidak tegang serta tidak membuat para siswa gugup dalam menghadapi UASBN. Sekolah juga rutin untuk selalu bertukar informasi dengan para orang tua siswa, hal ini dilakukan agar par a orang tua juga mengetahui bagaimana persiapan dan tingkah laku anaknya di sekolah dalam menghadapi UASBN.
Selain itu dalam hal pembiayaan, SDS. Borobudur memiliki kebijakan tersendiri untuk menyelesaikan hambatan yang ada tersebut yaitu dengan cara setiap siswa kelas VI pembayaran SPPnya dinaikkan. Ini dimulai sejak awal tahun ajaran baru dimana siswa baru naik kelas ke kelas VI. Dengan begitu secara tidak langsung orang tua siswa telah sedikit demi sedikit menyicil dan pada akhirnya nanti akan lunas. Tentunya hal ini dilakukan dengan persetujuan orang tua murid setelah rapat dengan komite sekolah. Namun demikian masih ada beberapa orang tua siswa yang keberatan dengan kesepakatan tersebut, mereka masih merasa kurang mampu akan hal itu, oleh karena itu pihak sekolah menanggapi dengan pengadaan subsidi silang bagi orang tua murid yang mampu agar mengeluarkan uang lebih besar untuk menutupi kekurangan dalam pembiayaan soal-soal UASBN tersebut.
Mengenai kesiapan siswa dalam menghadapi UASBN, sekolah selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi siswa seperti rutin memberikan latihan soal-soal yang akan membantu dan mengukur sampai dimana kesiapan siswa dalam menghadapi UASBN. Selain itu para guru selalu memantau kemajuan dan kemunduran prestasi siswa dalam mengerjakan latihan-latihan soal. Dengan begitu diharapkan setiap perkembangan siswa dapat terpantau dengan baik dan para guru dapat melihat bagaimana kesiapan siswa dalam menghadapi UASBN.

G. Pengalaman Mengikuti Ujian Nasional

Pengalaman saya mengikuti Ujian Nasional (UN) pada saat sekolah dulu sangat beragam dan tidak terlupakan, baik di SD, SMP dan SMA. Pertama kali saya mengikuti UN adalah pada saat SD ditahun 2001. Pada saat itu pemerintah memberlakukan sistem EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Persiapan saya menghadapi Ebtanas pada saat itu mungkin lumayan memberatkan saya. Setiap pagi saya harus sudah sampai sekolah pukul 6 pagi untuk melakukan kegiatan pendalaman materi pelajaran yang diujikan. Lalu pulang sekolah selalu diadakan try out mengenai materi yang telah di berikan pada saat pendalaman materi di pagi hari. Hal itu berlangsung selama 2 bulan penuh sebelum hari H. Tetapi semua itu saya lakukan dengan santai dan tanpa beban karena saya yakin saya akan dapat melewati ujian itu dengan baik. Hasil try out dan latihan-latihan saya pun cukup memuaskan, jadi itu merupakan motivasi terbesar saya dalam menghadapi ujian. Namun satu hal yang saya kuatirkan pada saat itu adalah cara pengisian lembar jawaban yang menggunakan komputer. Karena baru pertama kali diterapkan di sekolah, saya belum dapat mengerjakannya dengan baik dan itu yang membuat saya takut jika nantinya hasil jawaban saya tidak terbaca oleh komputer. Pada hari H EBTANAS saya telah mempersiapkan semua alat tulis dengan lengkap. Berhubung saya menempati absen yang pertama jadi saya mendapatkan tempat duduk di barisan paling depan. Hari pertama saya lewati dengan lancar dan saya dapat mengisi semua soal dengan baik walaupun ada beberapa soal yang menyulitkan. Lalu pada hari kedua ketika pelajaran Matematika yang diujikan, di tengah-tengah keseriusan saya mengerjakan soal dan membulatkan jawaban di lembar jawaban komputer, saya baru sadar ternyata lembar jawaban yang saya kerjakan itu sobek pada bagian bawah kertas. Saya kaget dan bingung, karena saya sudah mengerjakan lumayan banyak soal dan membutuhkan waktu yang lama jika saya harus mengganti dan mengulang pekerjaan membulatkan jawaban di kertas. Akhirnya saya hanya diam sampai waktu habis dan kertas jawaban itu saya berikan kepada pengawas untuk dikumpulkan. Saya hanya bisa berdoa semoga kertas jawaban saya itu dapat terbaca oleh komputer dan muncul nilainya. Dan ketika pengumuman kelulusan diberitahukan alhamdulillah saya lulus dan seketika itu juga saya langsung melihat nilai matematika saya yang ternyata memuaskan. Terima kasih ya Allah....pengalaman ini tidak akan saya lupakan sampai kapanpun.
Pengalaman kedua saya mengikuti UN adalah ketika SMP ditahun 2004. UN SMP saya merupakan ujian yang paling berkesan menurut saya. Hal ini karena perjuangan saya untuk bisa mengikuti UN dengan lancar itu sangat sulit. Persiapan saya mengikuti ujian di SMP kira-kira hanya 4 bulan. Setiap harinya ketika pulang sekolah, sekolah mengadakan kegiatan pendalaman materi pelajaran yang diujikan pada saat ujian. Di rumah pun saya privat dengan kakak saya khusus untuk pelajaran matematika karena memang saya sangat tidak menguasai pelajaran itu. Sangat sulit bagi saya pada saat itu membayangkan mampukah saya melewati ujian pada saat itu, tapi untung keluarga dan teman-teman saya selalu mendukung segala usaha saya sehingga saya mendapatkan semangat dan motivasi yang baru dari mereka. Dan 4 bulan berlalu, hari ujian pun datang. Pada hari pertama ujian, kepala sekolah saya mengumpulkan semua peserta ujian di lapangan untuk mengadakan doa bersama dan menyemangati kami agar rileks dan menjawab soal dengan sebaik mungkin. Event ini tidak saya lewatkan, saat itu saya benar-benar berdoa agar Allah memudahkan saya dalam menjawab soal sehingga dapat memberikan hasil yang terbaik. Sampai di ruang ujian saya berusaha tenang dan santai. Dalam 3 hari mengerjakan ujian alhamdulillah semua lancar dan tidak ada kendala-kendala berarti yang saya temui. Dan pada saat hasil ujian diumumkan alhamdulillah saya lulus dan mendapatkan nilai yang di luar dugaan saya sama sekali karena nilai saya tersebut masuk dalam 20 nilai terbaik di sekolah. Saya benar-benar bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya kemudahan dalam melewati semua itu dan memberikan kepada saya kebahagiaan yang tiada habis-habisnya.
Pengalaman mengikuti ujian, terakhir saya rasakan ketika ujian SMA ditahun 2007. Mengikuti ujian di SMA berbeda rasanya jika dibandingkan mengikuti ujian di SD ataupun di SMP. Ujian Nasional SMA tidak begitu membuat saya panik atau tertekan karena mungkin persiapan yang telah saya lakukan cukup banyak dan sekolah pun sangat membantu saya dalam menghadapi ujian tersebut. Persiapan mengikuti ujian nasional saya mulai dengan mengikuti bimbingan belajar Nurul Fikri (NF) setiap hari Jumat dan Sabtu. Di sana saya mendapatkan latihan soal-soal dan pendalaman materi yang lumayan dapat membantu saya memahami pelajaran-pelajaran yang diujikan. Selain itu disana juga dilaksanakan try out untuk mengerjakan soal-soal agar saya dapat menghadapi kondisi pada saat UN itu seperti apa dan bagaimana. Sekolah saya pun kemudian mengadakan kegiatan pendalaman materi setiap hari Sabtu dan Minggu dan kegiatan try out yang dilaksanakan setiap 2 minggu sekali di hari Jumat. Sebenarnya saya sempat jenuh dan muak juga karena setiap hari selalu bertemu dengan soal-soal dan tidak ada waktu libur untuk beristirahat. Karena itulah beberapa minggu menjelang UN saya jatuh sakit beberapa hari. Untungnya tidak terlalu parah dan kondisi kesehatan saya cepat pulih kembali. Pada hari H ketika ujian dilaksanakan saya berangkat terlalu pagi sehingga sampai di sekolah ternyata masih sepi. Kesempatan ini saya gunakan untuk membaca-baca sedikit materi yang akan diujikan hari itu. 3 hari saya lalui seperti itu dan tak terasa ujian telah selesai. Dalam ujian kali ini tidak ada hambatan atau sesuatu yang menyulitkan saya. Saya juga merasa tidak sia-sia mengorbanan waktu, biaya dan pikiran saya demi lancarnya ujian saya. Ketika pengumuman hasil ujian diberikan saya sangat senang karena siswa di sekolah saya lulus 100%. Saya sudah tidak peduli berapa nilai ujian saya, karena yang saya pikirkan adalah satu ujian telah saya lalui sebelum menuju uijan yang selanjutnya yang akan menentukan masa depan saya yaitu SPMB. Dan saya sangat bersyukur dengan semua itu. Terima kasih Ya Allah untuk semua nikmat yang tiada habisnya Engkau berikan kepadaku.








BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional atau yang sering disingkat UASBN merupakan ujian akhir bagi siswa-siswa sekolah dasar yang wajib diikuti oleh para siswa sekolah dasar kelas VI guna melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang telah dilakukan di sekolah-sekolah dasar selama kurang lebih 2 tahun ini mengakibatkn pro dan kontra. Namun di balik itu semua saya yakin pasti pemerintah selalu berusaha sekuat tenaga demi tercapainya pendidikan yang mengedapankan peningkatan mutu pendidikan dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik.
Dalam kunjungan saya ke SDS. Borobudur Jakarta dan mewawancarai kepala sekolahnya yaitu Ibu Purwanti, dapat saya simpulkan bahwa persiapan kegiatan UASBN di sekolah tersebut sudah cukup maksimal. Dimulai dari persiapan yaitu dengan mengadakan try out-try out yang berguna bagi siswa agar siswa dapat lebih mendalami materi pelajaran yang akan diujikan serta melatih mental mereka menghadapi UASBN yang sebenarnya.
Namun seiring berjalannya waktu terkadang siswa merasa jenuh dan stres dengan keseharian mereka menghadapi soal-soal sehingga membuat guru-guru menjadi sedikit khawatir. Tetapi guru-guru disana selalu memberi motivasi terhadap siswa-siswanya agar selalu semangat dan berusaha yang terbaik agar nantinya jug mendapatkan hasil yang terbaik. Disinilah peran guru dan orang tua sebagai pendidik di sekolah dan di rumah. Apabila anak sedang mengalami kebosanan dan stres maka guru dan orang tua dapat menyemangati mereka dan membuat mereka lebih bersemangat lagi untuk menghadapi UASBN.
Dalam pelaksanaan UASBN di sekolah swasta seperti SDS. Borobudur sama saja seperti sekolah lain, hanya saja yang membedakan di sekolah swasta terdapat biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian naskah soal UASBN itu. Dan hal itulah yang menjadi salah satu penghambat dalam pelaksanaan UASBN di SDS. Borobudur. Walaupun mereka sudah menetapkan kebijakan dengan menaikkan biaya SPP bagi siswa kelas VI sejak awal tahun ajaran baru ketika mereka naik ke kelas VI, namun terkadang ada beberapa wali murid yang masih keberatan akan hal itu. Dan hal tersebutlah yang akan terus di berikan jalan keluar sehingga permasalahan ini tidak terus menjadi penghambat berjalannya pelaksanaan UASBN.
Target SDS. Borobudur tahun ini dalam pelaksanaan UASBN adalah meluluskan siswa-siswanya 100%. Dan untuk mencapai itu sekolah akan terus berusaha dalam mempersiapkan siswa-siswanya dalam menghadapi UASBN sehingga harapan mereka untuk meluluskan siswanya 100% akan dapat terwujud.
Temuan yang saya dapat ketika saya melakukan observasi di SDS. Borobudur Jakarta adalah sekolah ini memiliki kebijakan yang sangat membantu para siswa dalam pembelian soal-soal UASBN dikarenakan mereka berstatus sebagai sekolah swasta. Saya pikir kebijakan tersebut sangatlah tepat dilakukan agar tidak memberatkan para siswa. Selain itu hubungan antara orang tua murid dengan sekolah maupun yayasan sangatlah dekat, hal tersebut membuat para orang tua siswa sangat percaya dan tidak menyesal karena anak-anak mereka bersekolah di sekolah ini. Sikap kekeluargaan sekolah ini memang sangat terasa ketika saya melakukan observasi disana. Semoga hal tersebut bisa terus ditingkatkan oleh sekolah ini agar nantinya sekolah ini dapat menjadi sekolah yang lebih maju lagi di masa yang akan datang.

3.2 Saran
Pelaksanaan UASBN di sekolah-sekolah dasar saya rasa sudah cukup tepat. Karena sudah jelas tujuan yang diharapkan dalam pelaksanaan UASBN adalah menilai pencapaian kompetensi secara nasional dan hasil UASBN tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan bagi pemetaan mutu satuan pendidikan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Namun mungkin saran saya, sebaiknya pemerintah secara merata harus memperhatikan kekurangan apa saja yang masih ada dalam pelaksanaan UASBN tersebut. Apakah standar minimal kelulusan itu telah dapat mewakili seluruh potensi siswa di seluruh Indonesia ini atau belum, karena jika tidak, pemerataan kualitas dan mutu pendidikan tidak akan terbagi secara merata dan nantinya itu akan membuat pendidikan di Indonesia akan semakin terpuruk.
Lalu pembiayaan bagi siswa-siswa yang kurang mampu seharusnya ditambahkan, karena melihat dari hasil wawancara saya dengan kepala sekolah SDS. Borobudur masih banyak orang tua murid yang merasa keberatan akan hal itu walaupun memang kembali ke orangtua masing-masing dalam mempertimbangkan anak-anak mereka masuk ke sekolah swasta itu karena apa.
Tapi usaha pemerintah dalam mewujudkan sistem pendidikan yang baik haruslah diberi dukungan selama itu tidak merugikan para peserta didik maupun orang-orang yang terlibat di dunia pendidikan ini. Sebagai warga negara yang baik kita hanya bisa mendoakan agar semua kebijakan pendidikan yang dikeluarkan pemerintah akan dapat membawa pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Amin.








DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Mursell, J. dan S. Nasution. 2002. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudijono, Anas. 2006. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.
www.bsnp-indonesia.org
http://pontianakpost.com
http://beritasore.com/2008/07/22/279929-warga-sumut-buta-aksara/
http://www.poskupang.com/main/cont.php?content=file_detail&jenis=11&idnya=19426&detailnya=1
http://sylvie.edublogs.org/2007/04/27/evaluasi-pendidikan/
http://www.sil.org/lingualinks/literacy/referencematerials/GlossaryOfLiteracyTerms/WhatIsEvaluation.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar