Jumat, 22 Mei 2009

Mengintip UAN di SD

Oleh : Deny Suwarja Sulaeman

Syahdan, teman saya yang mempunyai anak di kelas 6 SD dan sedang melakukan UAN dari tanggal 7 Juni - 10 Juni 2004. Siang datang ke rumah saya dengan wajah gelisah. Anak perempuannya mengadu, takut nilai UAN-nya akan jelek, karena ketika pelaksanaan UAN di sekolah pagi tadi pengawas UAN-nya berbicara kepada seluruh kelas,"Silakan saja buka buku dan bekerja sama dengan teman sekelas, tapi jangan rebut!"

Ketakutan dan kegelisahan anak teman saya itu bukannya tidak berasalasan. Seperti dikomando setelah mendengar perkataan dari sang pengawas, teman-teman sekelasnya serentak bekerja sama dan open book. Sedangkan sang anak teman saya itu tidak bisa berbuat seperti yang diperbuat temannya. Dia teringat pesan bapaknya yang juga seorang guru untuk bekerja sendiri apapun yang terjadi. Tapi kepatuhan dirinya pada nasihat sang Bapak, menjadikannya gelisah karena takut hasil NEM-nya akan jeblok dan akan di bawah NEM teman-temannya yang bekerja sama atau buka buku pada waktu mengerjakan UAN tersebut. Ujung-ujungnya dia tidak dapat masuk ke SMP Negeri favorit di daerahnya.

Kegelisahan dan kebingungan anak yang baru beranjak puber itu tambah menjadi-jadi ketika istirahat teman-teman yang berbeda SD (dalam satu lokasi ada 2 SD pemekaran dari satu SD) malah mentertawakannya ketika dia bercerita apa yang terjadi di kelasnya. Ternyata sungguh memalukan dan menyedihkan di SD tetangga tersebut menurut teman-temannya, para pengawasnya malah memberikan jawaban dari soal yang diberikan!

Ya, Allah..saya hanya bisa menatap teman saya tersebut dan berdoa semoga anaknya diberikan ketabahan dan kekuatan iman untuk tidak tergoda melakukan perbuatan tidak terpuji teman-teman serta guru yang mengawasnya. Saya tidak mempercayai omongan anak teman saya tersebut, sebab mungkin saja temannya itu hanya membual. Tapi keraguan tersebut musnah ketika kakak kandungnya yang kebetulan ikut dengan Bapaknya datang ke rumah, bahkan menambahkan bahwa kejadian seperti itu sebenarnya juga terjadi hampir di semua SD. Informasi tersebut dia dapat dari teman-teman sekelasnya yang sekarang duduk di SMP kelas 3.

Saya merenung hari pertama UAN di SD sudah begini kejadiannya bagaimana dengan hari selanjutnya?. Tidakkah para pengawas tersebut mempunyai hati nurani untuk mengajarkan nilai-nilai kejujuran, kerja keras dan disiplin tinggi untuk percaya pada diri sendiri pada para murid yang diawasinya? Tidakkah mereka menyadari bahwa Allah Maha Melihat apa yang mereka lakukan tersebut?

Analisa sementara membawa kepada kesimpulan awal, bahwa pengawasan yang longgar dan menjadikan UAN tidak lebih dari formalitas dan main-main belaka adalah demi mengejar perolehan NEM yang tinggi. Hal ini terjadi karena sistem seleksi untuk masuk ke SMP tahun ini kembali menggunakan NEM!

Para Machivelian pun bermunculan di SD, para guru yang seharusnya menjadi panutan para muridnya malah menghalalkan segala cara untuk menjadikan para siswanyan lolos dan diterima di SMP Negeri. Cara-cara kurang terpujipun mereka tempuh, dari mulai bersepakat antar pengawas untuk memberikan kelonggaran para siswa untuk bekerja sama atau open book. Bahkan yang lebih mengerikan ada pula para guru yang dengan semangat tempur yang tinggi, mengkatrol NEM para muridnya tersebut di luar akal sehat.

Teman saya itu kemudian bercerita tentang kejadian tiga tahun yang lalu ketika dia menjadi panitia PSB di SMP tempat dia mengajar. Tanpa malu dan tanpa perasaan bersalah, para pendaftar yang terdiri dari para guru SD itu menyerahkan berkas para murid yang mendaftar. Ketentuan waktu itu memang mengharuskan pendaftaran harus kolektif. Dia dibuat menelan ludah, menangis (dalam hati), karena NEM dari para siswa sepertinya sudah seperti mainan. NEM yang masuk rata-rata 42-44 waktu itu. Passing grade di SMP-nya, setelah dirangking ternyata jatuh di batas 36,6. Konsekuensinya hampir seluruh siswa yang mendaftar dengan NEM di atas angka tersebut lolos tanpa melihat kemampuan sesungguhnya dari si anak. Hasilnya ada dari satu SD tertentu, lulus semuanya alias hampir satu kelas diterima di SMP itu karena NEM-nya antara 42-44.

Senyum pahit pun terulas di bibirnya, juga teman-temannya yang menjadi panitia dan masih punya hati nurani. Betapa tidak?. Karena penasaran, untuk mengetes para siswa yang lulus dari SD yang mempunyai NEM yang tinggi tersebut mereka sepakat untuk memantau kemampuan mereka. Selama satu bulan pertama mereka memantau para murid baru tersebut. Hasilnya sungguh membuat para guru muda tersebut mengurut dada. Bayangkan ada diantara para murid yang berasal dari SD tertentu kemampuan membacanya sangat-sangat menyedihkan belum lagi tulisan tangannya yang seperti (maaf) ceker ayam, lalu bagaimana mereka bisa mencapai NEM 42 bahkan 44?

Akankah kejadian seperti di atas terus berulang pada sistem pendidikan kita? Mau dibawa kemana anak didik kita bila para guru masih terus berbuat seperti itu? Adakah kebusukan di dalam sistem pendidikan kita akan terus berlanjut? Pertanyaan ini mungkin tidak akan mendapatkan jawaban dari siapapun, karena kenyataan di atas tidak ada bukti apapun. Jawabannya mungkin terpulang kepada hati nurani para pendidik dan mereka yang memegang kekusaan dalam sistem pendidikan di negeri ini. Atau kita tanya saja pada rumput yang bergoyang seperti kata Ebit G Ade!

http://re-searchengines.com/sulaeman6-04.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar