Minggu, 24 Mei 2009

Gedung SD Banyak Rusak, Pendidikan Terlantar

Cita-cita pemerintah Provinsi Banten untuk menciptakan Banten Cerdas pada tahun 2009, nampaknya masih sebatas isapan jempol. Buruknya sarana dan pra sarana pendidikan masih menjadi potret buram dunia pendidikan di Banten.
Sebagai sarana menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, infrastruktur pendidikan merupakan salah satu penunjang penting yang dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menghasilkan kualitas kegiatan belajar mengajar yang baik. Namun, pada kenyataannya, berbagai program pembangunan di sektor ini belum mampu menuntaskan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan buruknya infrastruktur.
Salah satu bukti buramnya wajah dunia pendidikan di Banten adalah kondisi sekitar 40 persen gedung SD di Kecamatan Kota Serang yang tidak layak digunakan. Selain karena tidak memenuhi standar, kondisi ruang kelas pun banyak yang tidak sehat dan tidak bersih. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kubang merupakan salah satu dari sekian sekolah dasar yang mengalami kerusakan. Meski letaknya di pusat Kota Serang dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari Kantor Gubernur Banten, bukan berarti keberadaannya akan mudah ditemui. Letaknya di pinggir sungai dan berada di dalam lingkungan penduduk membuat sekolah itu sulit dicari bagi siapapun yang belum pernah ke SD ini sebelumnya.
Dedi Setiyadi, Kepsek (Kepala Sekolah) SDN Kubang ini mengeluhkan kondisi sekolah ini yang menurutnya mengalami banyak kekurangan dan kerusakan. Dengan retaknya beberapa tembok dan hampir roboh, pondasi salah satu ruangan yang sudah turun, serta kondisi lantai yang belum terkeramik membuat proses belajar mengajar tidak nyaman.
“Walau tidak nyaman, tapi kami mau tidak mau harus tetap mengajar,” terang Dedi.
Kondisi sekolah dan sarana-prasarana yang tidak memadai, menurut Dedi. membuat para orang tua enggan untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD Kubang. Adapun mereka yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah itu, lebih disebabkan karena tidak adanya pilihan lain akibat himpitan ekonomi.
Karena jarangnya para orang tua murid yang hendak menyekolahkan anaknya di sekolah ini membuat siswa yang ada di sekolah ini secara keseluruhan hanya berjumlah seratus lima anak. Siswa yang paling banyak adalah siswa kelas satu yang berjumlah tiga puluh orang dan Siswa kelas enam yang berjumlah tujuh belas orang, itu pun masing-masing hanya satu kelas.
“Memang sarana dan prasarana di sekolah ini kurang memadai, namun SDM (Sumber Daya Manusia) di sekolah ini berani diadu,” tantang Dedi.
Hingga saat ini, SD yang berada tepat di pinggir sungai itu belum memiliki rencana untuk membangun dan memperbaiki sekolah ini karena tidak adanya dana. “Hingga saat ini belum ada donatur yang bersedia membantu sekolah kami,” terangnya
Dedi mengatakan, mengenai kondisi sekolah ini pihaknya sudah sering mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah, namun belum pernah dapat bantuan. “Sekolah ini tidak masuk prioritas utama,” sindirnya.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menginginkan agar pihak pemerintah datang dan menyaksikan sendiri bagaimana keadaan sekolah yang berada di tengah-tengah kota itu. Ia mengatakan bahwa pemerintah tidak adil, SD yang kondisinya sudah bagus dan sarana prasarananya sudah memadai tetap mendapat bantuan.
Mengenai ketidakadilan yang dikeluhkan oleh Dedi, Kepala Bidang (Kabid) Taman Kanak-kanak (TK)/ SD, H. Odjat Sukardjat mengatakan pemerintah saat ini sangat selektif. Pemerintah mengutamakan sekolah-sekolah yang bangunannya tidak layak terlebih dahulu. Ia mengakui, saat ini, setidaknya 40 persen Sekolah Dasar (SD) di seluruh wilayah Kota Serang kondisinya sudah tidak layak pakai.
Menurutnya, kategori SD tidak layak, menurut Odjat saat ditemui di tempat kerjanya pada Kamis (5/3) adalah atap berlubang, tembok rusak atau mau roboh, lantai belum dikeramik, dan berdebu. Ia menyerukan kepada pihak sekolah agar bangunan-bangunan yang tidak layak itu segera dikosongkan dan siswanya disuruh belajar di rumah masing-masing.
“Belajar di rumah masing-masing, bukan libur,” tegasnya
Mengenai SD atau sekolah-sekolah yang sudah bagus dan sarana-prasarananya sudah memadai tetapi tetap mendapatkan bantuan Odjat dalam kesempatan itu juga mengatakan bahwa hal tersebut bisa terjadi lantaran ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Saat ini harus ada perubahan, kejadian-kejadian seperti itu tidak akan terjadi lagi,” tegas Odjat.

MTS MA Ambrol
Bukti lain akibat ketidakpedulian pemerintah adalah ambrolnya Gedung Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mathlaul Anwar Langensari di Kecamatan Saketi, Jum’at (6/03) lalu. Sekolah ini ambrol akibat kondisinya yang sudah rapuh karena hingga saat ini belum pernah “dilirik” pemerintah. Runtuhnya gedung sekolah mengakibatkan aktifitas belajar mengajar terganggu
Kendati tidak menimbulkan korban jiwa, namun peristiwa tersebut tetap membuat pihak sekolah merasa khawatir akan terjadi runtuhan susulan, lantaran sisa bangunan yang ada saat ini kondisinya pun sangat memprihatinkan.
Dalam hal ini, Kepala Sekolah Muhaimin merasa khawatir dengan bangunan Sekolah Madrasah Tsanawiyah MA ini tidak mampu menunggu hingga bantuan turun dari pemerintah terkait. “Saat ini, ruangan kelas yang ada di MTs ini kondisinya sudah tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar,” kata Muhaimin kepada Koran Banten belum lama ini.
Hal yang sama dikatakan salah satu guru MTs Mathlaulanwar Amri. Dirinya mengaku merasa sangat khawatir dengan kondisi bangunan sekolah kondisinya sudah tidak layak disebut sebagai ruang kelas.
“Saya sangat berharap kepada pemerintah maupun stakeholder untuk membantu dan lebih memperhatikan dunia pendidikan,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Kantor Departemen Agama (DEPAG) Kabupaten Pandeglang, Maman Faturahman, mengaku belum mendapat laporan soal runtuhnya gedung MTs Mathlaul Anwar. Untuk tahun 2009, menurutnya, Kandepag Kabupaten Pandeglang sedang berkonsentrasi memperbiki sarana dan prasarana di Madrasah Ibtidaiyah Karena dananya yang terbatas. “Baru 2010 nanti saya akan membabat habis sekolah-sekolah yang perlu di rehabilitasi,” kata Maman.
Terpisah, pengamat pendidikan asal Serang, Agus Muharram menilai ketidakpedulian pemerintah terhadap sektor pendidikan merupakan cermin masih rendahnya kesadaran pemerintah untuk menciptakan SDM yang berlkualitas di Banten. Ia menuding, selama ini pemerintah lebih cenderung membangun infrastruktur ekonomi ketimbang infrastruktur pendidikan.
“Padahal, tanpa pendidikan yang memeadai, segala infrastruktur ekonomi yang yang dibangun akan menjadi percuma, karena penggunanya adalah orang-orang yang tidak berpendidikan,” jelas alumni Universitas Ahmad yani, Cimahi ini kepada Koran Banten.
Lebih lanjut, pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA Terpadu AS Syarief ini meminta pemerintah untuk segera mengalihkan prioritas pembangunan kepada sektor pendidikan. Lantaran, kata Agus, yang terpenting dari pembangunan itu sendiri adalah menciptakan SDM-SDM yang mampu mengisi pembangunan yang hamnya bisa dicapai melalui pendidikan. (END/AAL/YUD)

http://www.koranbanten.com/2009/03/11/gedung-sd-banyak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar