Senin, 18 Mei 2009

Nasib (tragis) Pers Mahasiswa

Oleh: YANTO

NASIB jurnalisme kampus sungguh memprihatinkan. Ditengah maraknya media massa baru yang tumbuh subur belakangan ini, produk jurnalisme kampus nyaris sama sekali tidak terdengar. Padahal produk Jurnalisme kampus di Indonesia pernah mengalami masa keemasan. Setidaknya, ia diwakili oleh pers mahasiswa yang terbit di awal tahun 1970-an misalnya Mahasiswa Indonesia, Harian KAMI dan Mimbar Demokrasi, yang pembacanya bukan hanya dari kalangan Mahasiswa, tetapi diminati masyarakat umum dengan oplah berkisar tigapuluh ribu sampai tujuh puluh ribu eksemplar.

Menarik dicermati, sebab sekarang ini pers mahasiswa dikalangan mahasiswa sendiri tidak populer. Bahkan tidak banyak mahasiswa yang tahu tentang keberadaan pers mahasiswa.Kecuali segelintir saja, yaitu pengelolanya dan paling jauh sesama aktivis mahasiswa, baik dilingkungan kampusnya maupun dikampus lainnya. Ibaratnya, hidup segan mati pun tak mau.

Padahal saat ini, dikampus negeri dan swasta yang tersebar di Indonesia lembaga pers mahasiswa berjumlah puluhan bahkan mendekati ratusan. Tidak banyak pula yang menyadari pers mahasiswa merupakan wadah yang sangat baik untuk menempa intelektualitas pengelolanya. Disamping itu dapat dijadikan pembelajaran bagi yang berminat terjun dalam dunia jurnalisme profesional. Banyak faktor yang mendukung pers mahasiswa sebagai wadah pembelajaran lahirnya jurnalis sejati. Salah satunya tempat untuk menanamkan idealisme moral, suatu persoalan yang penting dan harus dimiliki oleh seorang jurnalis profesional dalam menjalankan tugasnya. Mengapa? Sebab didalam kultur pers mahasiswa, kita akan dibiasakan untuk memiliki independesi tinggi. Satu-satunya keberpihakan adalah pada realitas itu sendiri.

Sedangkan dari sistem kerjanya, pers mahasiswa tidaklah jauh berbeda dengan keadaan jurnalisme pada umumnya. Mulai rapat redaksi untuk menentukan tema aktual, teknik pemburuan berita, hingga penetapan batas waktu atau deadline dimana semua berita harus siap untuk naik cetak dan pada gilirannya siap diterbitkan.

Menjadi penting untuk diketahui, apa sebab sehingga pers mahasiswa sekarang mati suri. Disini kita akan temukan tiga faktor penyebab utamanya. Pertama, faktor politis sebagai tinjauan historis. Faktor kedua, minimnya budaya menulis dan membaca dikalangan kampus, dan faktor ketiga adalah iklim kapitalisme media yang merajai dinamika kehidupan keseharian kita. Secara historis, keberadaan pers mahasiswa tidak pernah bisa dilepaskan dari pengaruh rezim yang berkuasa. Berkali-kali produk jurnalisme kampus ini jatuh bangun. Pers mahasiswa tumbuh pertama kali dijaman kolonial dengan nama "Indonesia Merdeka", ia menjadi bagian alat perjuangan politik dalam menyuarakan nasionalisme Indonesia di tanah Eropa. Pendirinya adalah indische vereeneging, organisasi mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Kemudian dijaman Jepang, pers mahasiswa menjadi mandul akibat hegemoni janji-janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan.

Dalam sistem demokrasi liberal di tahun 1950-an, dan awal masa demokrasi terpimpin, pers mahasiswa kembali subur. Dengan sudut pandang ilmiah dan bobot berita yang didasari oleh pelbagai penelitian membuat pandangan-pandangan pers mahasiswa dipertimbangkan penguasa maupun masyarakat. Setelah itu, ditahun 1960-an, lonceng kematian pers mahasiswa dimulai justru saat mereka mulai mampu bersaing dengan pers komersial.

Sebab tidak lama kemudian pers mahasiswa terkotak-kotak menurut afiliasi ideologi partai yang bersaing pada jaman itu. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari kebijakan politik Presiden Soekarno yang memerintahkan semua organisasi mahasiswa menyatakan dengan jelas sikap politiknya. Kendati pun demikian, pers mahasiswa tidak serta merta lantas mati. Harian KAMI, Mimbar Demokrasi dan beberapa media lain yang dikelola mahasiswa meneruskan perjuangannya dengan mengemukakan gagasan tentang pembangunan. Puncaknya, pada saat peristiwa Malari 1974, pers mahasiswa dituduh sebagai agitator yang memprovokasi kerusuhan dan pada gilirannya dilarang terbit oleh pemerintah. Peristiwa ini tidak berselang lama diikuti pembredelan terhadap beberapa media berpengaruh di Indonesia, seperti Indonesia Times, Merdeka,Pelita dan lain-lainnya.

Tekanan pemerintahan orde baru membuat jurnalisme kampus seperti hidup dibonsai. Isi surat kabar dikontrol ketat, bahkan tidak jarang isi berita dan artikel harus dirubah atau digagalkan karena intervensi pejabat kampus yang begitu ketakutan terhadap pemerintah. Beberapa pers mahasiswa yang nekad, dengan materi kritis langsung dibredel. Sedangkan yang lebih moderat, membiarkan halaman yang dilarang tetap kosong, bahkan secara berani sering ditulis " halaman ini sengaja dibiarkan kosong karena dilarang Pemerintah." Hal ini pernah penulis lakukan bersama kawan-kawan aktivis, pada masa itu, karena memuat wawancara khusus, dengan nara sumber Faisal Basri (ekonom dari UI) bertema "Bisnis Militer dan Keluarga Cendana" dalam sebuah edisi semester genap di tahun 1995, Majalah Dimensi Ekonomi yang dikelola Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) DIMEK FE UMM

Selain tekanan dari pemerintah, kerap pula pers mahasiswa harus berhadapan dengan kebijakan rektorat karena bersikap kritis. Di kampus-kampus perguruan tinggi negeri, ancamannya lebih berat. mulai dari ancaman skorsing sampai dengan mempersulit kelulusan seorang aktivis. Lambat laun atas risiko yang berat itu, aktivitas jurnalisme kampus menjadi semacam "organisasi terlarang" dan pada gilirannya banyak dihindari mahasiswa.

Adapun minimnya budaya menulis dan membaca dikalangan mahasiswa maupun dosen di perguruan tinggi termasuk faktor-faktor penyebab kemerosotan jurnalisme kampus. Jamak diketahui, kegiatan menulis dikalangan mahasiswa biasanya hanya dikaitkan dengan kewajiban menulis laporan perkuliahan dan menulis kewajiban skripsi. Akibatnya, karena tidak terbiasa menulis, mahasiswa tidak sedikit yang melakukan penjiplakan (plagiasi) atas karya orang lain. Disini sebenarnya, mahasiswa bisa menarik manfaat dari keberadaan jurnalisme kampus. Sebab sejak awal ia akan mempelajari bagaimana teknik-teknik penulisan sehingga tidak sampai melakukan penjiplakan.

Kurangnya apresiasi dari pengelola kampus terhadap budaya menulis menyebabkan secara tidak langsung image jurnalisme kampus sebagai kegiatan kurang bermanfaat untuk dilakukan mahasiswa. Disamping itu ketatnya jam perkuliahan memang membutuhkan siasat tersendiri bagi yang ingin masuk dalam kegiatan ini. Mereka harus mampu mengatur kesibukan mengelola media dan mengatur jadwal masuk kelas.

Di luar itu, iklim kapitalisme media yang menjadikan acara infotainment di televisi lebih menggugah kesenangan masyarakat membuat jurnalisme kampus semakin tergeser. Peredaran surat kabar, yang berbau politis sampai pornografi, setidaknya menurut pengamatan penulis, tidak jarang membuat media yang dikelola mahasiswa kesulitan menentukan potitioning segmen pasar. Seringkali materi berita atau pun gagasannya sudah basi sehingga kurang menarik bagi pembaca.

Lebih memprihatinkan lagi, kemerosotan nilai dan mutu itu cenderung mematikan secara perlahan pers-pers kampus. Contohnya, apresiasi Goenawan Mohamad dan prestasi yang pernah dikalungkan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta kepada majalah DIMEK FE UMM sebagai pers mahasiswa bermutu tingkat nasional, tidak mampu menghalangi majalah yang diterbitkan dalam tiga bulanan- dan pernah beroplah sampai lima ribu eksemplar sekali terbitnya itu- berubah menjadi sebuah buletin tidak bermutu yang diterbitkan enam bulanan sekali.

Sebagai konsekuensi adanya kapitalisme media, dewasa ini kita betul-betul merasakan kebutuhan untuk menerima informasi secara netral, jujur dan objektif. Oleh sebab menjamurnya media-media baru secara paradoksal justru membingungkan masyarakat pembaca. Fenomena ini ditangkap juga oleh Yasraf A Piliang. Dikatakannya, kuatnya kepentingan ekonomi dan kekuasaan politik sesungguhnya menjadikan media tidak dapat netral, jujur, adil, objektif dan terbuka. Akibatnya, informasi yang disuguhkan oleh media telah menimbulkan persoalan objektivitas pengetahuan yang serius pada media itu sendiri.

Lebih lanjut dikatakan Yasraf, kepentingan-kepentingan ekonomi dan kekuasaan politik akan menentukan apakah informasi yang disampaikan oleh sebuah media mengandung kebenaran (truth) atau kebenaran palsu (pseudo-truth); menyampaikan objektivitas atau subjektivitas; bersifat netral atau berpihak; mempresentasikan fakta atau memelintir fakta; menggambarkan realitas (reality) atau menyimulasi realitas (simulacrum) (2004:134).

Terkadang di satu media kita melihat, pihak yang disalahkan oleh media lain muncul sebagai pihak yang benar. Begitu pula sebaliknya. Sangat terasa, media menjadi alat pemutarbalikan fakta, tergantung media itu punya kepentingan apa dan dibawah pengaruh kekuasaan siapa. Sebenarnya hal ini merupakan peluang bagi pers mahasiswa untuk dapat maju dan berkembang. Tentu akan sangat menarik melihat munculnya jurnalisme kampus. Sebab, ia tidak seperti jurnalisme umum, yang tampaknya selalu tidak bisa dilepaskan dari aspek kepentingan ekonomi (economi interest) dan aspek kepentingan kekuasaan (power interest) dibalik adanya media.

Selain itu pers mahasiswa telah memiliki pasar yang jelas yaitu mahasiswa itu sendiri. Tinggal bergantung pada pengelola pers mahasiswa, mampukah mereka mengembangkan kreativitas dan peka dengan kebutuhan pasar? Tulisan ini diharapkan menjadi bahan perenungan bagi para jurnalis kampus.

http://re-searchengines.com/art05-59.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar