Minggu, 24 Mei 2009

Lebih dari Separuh SD di Riau Kekurangan Sarana

Oleh : nel
Pekanbaru, Kompas - Dari sekitar 150.000 bangunan sekolah dasar di Provinsi Riau, lebih dari 60 persennya dinyatakan kekurangan sarana pendukung. Masalah umumnya adalah bangunan sekolah sempit yang hanya untuk ruang kelas dan guru, tidak adanya ruang terbuka untuk menunjang kegiatan ekstrakurikuler siswa, dan minimnya alat bantu belajar-mengajar.
Menurut pemerhati masalah pendidikan Riau yang juga mantan Direktur Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Djauzak Ahmad, Kamis (19/5), di Kota Pekanbaru dan kawasan perkotaan lainnya luas kompleks bangunan sekolah tak lebih dari 2.500 meter persegi.
"Ini amat sempit untuk ukuran kebutuhan aktivitas siswa. Belum lagi kenyataan banyaknya bangunan sekolah yang sudah tak layak lagi untuk menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar," katanya.
Maka Djauzak mengingatkan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk memenuhi janjinya memperbaiki sarana prasarana sekolah. Realisasi janji tersebut diharapkan segera mulai tahun 2005 ini, jangan sampai semuanya hanya dalam tataran retorika politik saja.
Realisasi jauh dari target
Pernyataan serupa dilontarkan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Soemardhi Thaher yang juga anggota DPD. Menurut dia, realisasi penggunaan dana untuk peningkatan mutu pendidikan di Provinsi Riau tahun 2004 masih jauh dari target. Usaha peningkatan mutu di bidang pendidikan ini dinilai tidak keruan karena hanya terpakai 5-10 persen dari total dana Rp 400 miliar lebih.
Terlepas dari penyalahgunaan dana, dunia pendidikan di Riau memang masih membutuhkan kucuran bantuan untuk peningkatan mutu pengajar, sarana, dan prasarana fisik sekolah. Selama 10 tahun terakhir mutu pendidikan di Riau dinilai lamban peningkatannya. Dari total 4,5 juta jiwa penduduk Riau, jumlah warga yang tamat sekolah dasar baru 64,67 persen.
Rendahnya angka kelulusan tingkat dasar ini bukan semata-mata alasan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi Riau per tahun melampaui 4,5 persen. Demikian pula produk domestik bruto per kapita yang mencapai Rp 13,2 juta. Soemardhi mengatakan, rendahnya minat belajar formal warga Riau turut ditunjang oleh minimnya sarana dan prasarana pendidikan.
Potret kondisi SD yang mengkhawatirkan terlihat pada kondisi SD Negeri 035 Pematang Duku, Kabupaten Bengkalis, yang hanya memiliki tiga ruang kelas dan satu ruang guru. Akibatnya, para murid terpaksa belajar di emperan kelas dengan lembar terpal guna menghindari terik matahari. Sebagian lagi harus belajar di tempat parkir motor.
Tragisnya, di Kota Pekanbaru pun terdapat SD yang masih rusak parah, yaitu SDN 015 di Jalan Nelayan, Rumbai, Pekanbaru. Bangunan dari susunan papan kayu dan berbentuk panggung ini tidak pernah direnovasi selama 15 tahun terakhir. Beberapa dinding kayu telah lapuk, dinding penyekat antarkelas banyak berlubang, dan atapnya runtuh sebagian. Fasilitas kamar kecil sudah lama tidak tersedia di SD yang terletak di pinggir Sungai Siak ini.

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0505/20/humaniora/1762796.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar